Latest Post
Showing posts with label Jejak. Show all posts
Showing posts with label Jejak. Show all posts
11/02/2013
Mengurus Hutan INDONESIA
Written By Unknown on Saturday, November 02, 2013 | 11/02/2013
Hutan Indonesia penuh pesona hijau dan langka, dunia-dunia barat berkepentingan akan hutan kita, proyek-proyek raksasa atas nama devisa tak tersisa. Segeralah kita bersama-sama menyelamatkan hutan kita dari penebangan liar dan kongkalikong pengusaha yang tak bertanggung jawab. Hutan ini milik kita milik generasi sesudah kita, hidup kita yang hanya sekali tak dibiarkan diam tak berdaya dianiaya dan dibodohi oleh konsep-konsep yang bermuara kepunahan. Segera saja Selamatkan Hutan INDONESIA Tercinta.
11/02/2013
Selamatkan Hutan INDONESIA
Di seluruh dunia, hutan-hutan alami sedang dalam krisis. Tumbuhan dan
binatang yang hidup didalamnya terancam punah. Dan banyak manusia dan
kebudayaan yang menggantungkan hidupnya dari hutan juga sedang terancam.
Tapi tidak semuanya merupakan kabar buruk. Masih ada harapan untuk
menyelamatkan hutan-hutan ini dan menyelamatkan mereka yang hidup dari
hutan.Hutan purba dunia sangat beragam. Hutan-hutan ini meliputi hutan
boreal-jenis hutan pinus yang ada di Amerika Utara, hutan hujan tropis,
hutan sub tropis dan hutan magrove. Bersama, mereka menjaga sistem
lingkungan yang penting bagi kehidupan di bumi. Mereka mempengaruhi
cuaca dengan mengontrol curah hujan dan penguapan air dari tanah. Mereka
membantu menstabilkan iklim dunia dengan menyimpan karbon dalam jumlah
besar yang jika tidak tersimpan akan berkontribusi pada perubahan iklim.
Hutan-hutan purba ini adalah rumah bagi
jutaan orang rimba yang untuk bertahan hidup bergantung dari hutan-baik
secara fisik maupun spiritual.
Hutan-hutan ini juga merupakan rumah
bagi duapertiga dari spesies tanaman dan binatang di dunia. Yang berarti
ratusan ribu tanaman dan pohon yang berbeda jenis dan jutaan
serangga-masa depan mereka juga tergantung pada hutan-hutan purba.
Hutan-hutan purba yang menakjubkan ini
berada dalam ancaman. Di Brazil saja, lebih dari 87 kebudayaan manusia
telah hilang; pada 10 hingga 20 tahun kedepan dunia nampaknya akan
kehilangan ribuan spesies tanaman dan binatang. Tapi ada kesempatan
terakhir untuk menyelamatkan hutan-hutan ini dan orang-orang serta
spesies yang tergantung padanya.
Selamatakan hutan kita dari serakah kota-kota, mulai diri kita dan lingkungan untuk menanam pohon sumber udara, segera kawan.
5/25/2013
Sifat-sifat utama Nabi Muhammad SAW yang patut diteladani
Written By Unknown on Saturday, May 25, 2013 | 5/25/2013
“Tiadalah Kami mengutus engkau (wahai Muhammad) melainkan untuk menjadi Rahmat bagi sekalian alam.” (Quran s. al- Anbiya : 107)
Peribadi Nabi Muhammad
s.a.w. sungguh menarik hati seluruh manusia yang mengakui kebenaran,
keperibadian Rasulullah jelas diterangkan dalam al-Quran diantaranya Allah
berfirman yang bermaksud:
“Maka
disebabkan rahmat dari Allah (kepadamu Muhammad s.a.w) , engkau telah
bersikap lemah lembut kepada mereka. Kalaulah engkau bersikap kasar lagi
keras hati, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari kamu. Oleh itu
ma’afkanlah mereka (mengenai kesalahan yang mereka lakukan terhadap
engkau, dan mohonlah keampunan bagi mereka, dan juga bermusyawarahlah
dengan mereka dalam urusan (permasaalahan keduniaan) itu. Kemudian
setelah engkau berazam (untuk membuat sesuatu) maka bertawakkallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang yang bertawakkal
kepadaNya. (al-Quran s. Ali Imran: 159)
Ini
salah satu sifat terpuji dari peribadi Nabi Muhammad s.a.w. diantara
banyak lagi sifat terpuji yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w., sehingga
menyebabkan baginda Nabi s.a.w. telah dapat membawa suatu perubahan
yang luar biasa terhadap masyarakat ummat manusia, khasnya masyarakat
Arab di zaman jahiliah
Kebiasaannya
Telah
dikeluarkan oleh Ya’kub bin Sufyan Al-Faswi dari Al-Hasan bin Ali ra.
katanya: Pernah aku menanyai bapak saudaraku (dari sebelah ibu) Hind bin
Abu Halah, dan aku tahu dia memang sangat pandai mensifatkan perilaku
Rasulullah SAW, padahal aku ingin sekali untuk disifatkan kepadaku
sesuatu dari sifat beliau yang dapat aku mencontohinya, maka dia berkata
: Adalah Rasulullah SAW itu kelihatannya seperti orang yang selalu
bersedih, senantiasa banyak berfikir, tidak pernah beristirahat panjang,
tidak berbicara bila tidak ada keperluan, banyak diamnya, memulakan
bicara dan menghabiskannya dengan sepenuh mulutnva, kata-katanya penuh
mutiara mutu manikam, satu-satu kalimatnya, tidak berlebih-lebihan atau
berkurang-kurangan, lemah lembut tidak terlalu kasar atau menghina
diri, senantiasa membesarkan nikmat walaupun kecil, tidak pernah mencela
nikmat apa pun atau terlalu memujinya, tiada seorang dapat meredakan
marahnya, apabila sesuatu dari kebenaran dihinakan sehingga dia dapat
membelanya.
Dalam
riwayat lain, dikatakan bahwa dia tidak menjadi marah kerana sesuatu
urusan dunia atau apa-apa yang bertalian dengannya, tetapi apabila dia
melihat kebenaran itu dihinakan, tiada seorang yang dapat melebihi
marahnya, sehingga dia dapat membela kerananya. Dia tidak pernah marah
untuk dirinya, atau membela sesuatu untuk kepentingan dirinya, bila
mengisyarat diisyaratkan dengan semua telapak tangannya, dan bila dia
merasa takjub dibalikkan telapak tangannya, dan bila berbicara
dikumpulkan tangannya dengan menumpukan telapak tangannya yang kanan
pada ibu jari tangan kirinya, dan bila dia marah dia terus berpaling
dari arah yang menyebabkan ia marah, dan bila dia gembira dipejamkan
matanya, kebanyakan ketawanya ialah dengan tersenyum, dan bila dia
ketawa, dia ketawa seperti embun yang dingin.
Berkata
Al-Hasan lagi: Semua sifat-sifat ini aku simpan dalam diriku lama juga.
Kemudian aku berbicara mengenainya kepada Al-Husain bin Ali, dan aku
dapati ianya sudah terlebih dahulu menanyakan bapa saudaraku tentang apa
yang aku tanyakan itu. Dan dia juga telah menanyakan ayahku (Ali bin
Abu Thalib ra.) tentang cara keluar beliau dan masuk beliau, tentang
cara duduknya, malah tentang segala sesuatu mengenai Rasulullah SAW itu.
Keadaannya di rumah
Berkata
Al-Hasan ra. lagi: Aku juga pernah menanyakan ayahku tentang masuknya
Rasulullah SAW lalu dia menjawab: Masuknya ke dalam rumahnya bila sudah
diizinkan khusus baginya, dan apabila dia berada di dalam rumahnya
dibahagikan masanya tiga bahagian. Satu bahagian khusus untuk Allah
ta’ala, satu bahagian untuk isteri-isterinya, dan satu bahagian lagi
untuk dirinya sendiri. Kemudian dijadikan bahagian untuk dirinya itu
terpenuh dengan urusan di antaranya dengan manusia, dihabiskan waktunya
itu untuk melayani semua orang yang awam mahupun yang khusus, tiada
seorang pun dibezakan dari yang lain. Di antara tabiatnya ketika
melayani ummat, dia selalu memberikan perhatiannya kepada orang-orang
yang terutama untuk dididiknya, dilayani mereka menurut kelebihan diri
masing-masing dalam agama.
Ada
yang keperluannya satu ada yang dua, dan ada yang lebih dari itu, maka
dia akan duduk dengan mereka dan melayani semua urusan mereka yang
berkaitan dengan diri mereka sendiri dan kepentingan ummat secara umum,
cuba menunjuki mereka apa yang perlu dan memberitahu mereka apa yang
patut dilakukan untuk kepentingan semua orang dengan mengingatkan pula:
“Hendaklah siapa yang hadir menyampaikan kepada siapa yang tidak hadir.
Jangan lupa menyampaikan kepadaku keperluan orang yang tidak dapat
menyampaikannya sendiri, sebab sesiapa yang menyampaikan keperluan orang
yang tidak dapat menyampaikan keperluannya sendiri kepada seorang
penguasa, nescaya Allah SWT akan menetapkan kedua tumitnya di hari
kiamat”, tiada disebutkan di situ hanya hal-hal yang seumpama itu saja.
Dia tidak menerima dari bicara yang lain kecuali sesuatu untuk maslahat
ummatnya. Mereka datang kepadanya sebagai orang-orang yang berziarah,
namun mereka tiada meninggalkan tempat melainkan dengan berisi. Dalam
riwayat lain mereka tiada berpisah melainkan sesudah mengumpul banyak
faedah, dan mereka keluar dari majlisnya sebagai orang yang ahli dalam
hal-ehwal agamanya.
Keadaannya di luar rumah
Berkata
Al-Hasan r.a. lagi: Kemudian saya bertanya tentang keadaannya di luar,
dan apa yang dibuatnya? Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW ketika di luar,
senantiasa mengunci lidahnya, kecuali jika memang ada kepentingan untuk
ummatnya. Dia selalu beramah-tamah kepada mereka, dan tidak kasar dalam
bicaranya. Dia senantiasa memuliakan ketua setiap suku dan kaum dan
meletakkan masing-masing di tempatnya yang layak. Kadang-kadang dia
mengingatkan orang ramai, tetapi dia senantiasa menjaga hati mereka agar
tidak dinampakkan pada mereka selain mukanya yang manis dan akhlaknya
yang mulia.
Dia
selalu menanyakan sahabat-sahabatnya bila mereka tidak datang, dan
selalu bertanyakan berita orang ramai dan apa yang ditanggunginya. Mana
yang baik dipuji dan dianjurkan, dan mana yang buruk dicela dan
dicegahkan. Dia senantiasa bersikap pertengahan dalam segala perkara,
tidak banyak membantah, tidak pernah lalai supaya mereka juga tidak suka
lalai atau menyeleweng, semua perkaranya baik dan terjaga, tidak pernah
meremehkan atau menyeleweng dari kebenaran, orang-orang yang senantiasa
mendampinginya ialah orang-orang paling baik kelakuannya, yang
dipandang utama di sampingnya, yang paling banyak dapat memberi nasihat,
yang paling tinggi kedudukannya, yang paling bersedia untuk berkorban
dan membantu dalam apa keadaan sekalipun.
Majlisnya
Berkata
Al-Hasan ra. lagi: Saya lalu bertanya pula tentang majlis Nabi SAW dan
bagaimana caranya ? Jawabnya: Bahawa Rasulullah SAW tidak duduk dalam
sesuatu majlis, atau bangun daripadanya, melainkan dia berzikir kepada
Allah SWT Dia tidak pernah memilih tempat yang tertentu, dan melarang
orang meminta ditempatkan di suatu tempat yang tertentu. Apabila dia
sampai kepada sesuatu tempat, di situlah dia duduk sehingga selesai
majlis itu dan dia menyuruh membuat seperti itu. Bila berhadapan dengan
orang ramai diberikan pandangannya kepada semua orang dengan sama rata,
sehingga orang-orang yang berada di majlisnya itu merasa tiada seorang
pun yang diberikan penghormatan lebih darinya.
Bila
ada orang yang datang kepadanya kerana sesuatu keperluan, atau sesuatu
maslahat, dia terus melayaninya dengan penuh kesabaran hinggalah orang
itu bangun dan kembali. Dia tidak pemah menghampakan orang yang meminta
daripadanya sesuatu keperluan, jika ada diberikan kepadanya, dan jika
tidak ada dijawabnya dengan kata-kata yang tidak mengecewakan hatinya.
Budi pekertinya sangat baik, dan perilakunya sungguh bijak. Dia dianggap
semua orang seperti ayah, dan mereka dipandang di sisinya semuanya sama
dalam hal kebenaran , tidak berat sebelah. Majlisnya semuanya
ramah-tamah, segan-silu, sabar menunggu, amanah, tidak pemah terdengar
suara yang tinggi, tidak dibuat padanya segala yang dilarangi, tidak
disebut yang jijik dan buruk, semua orang sama kecuali dengan kelebihan
taqwa, semuanya merendah diri, yang tua dihormati yang muda, dan yang
muda dirahmati yang tua, yang perlu selalu diutamakan, yang asing selalu
didahulukan.
Ketika bersama sahabat-sahabatnya
Berkata
Al-Hasan ra. lagi: Saya pun lalu menanyakan tentang kelakuan Rasulullah
SAW pada orang-orang yang selalu duduk-duduk bersama-sama dengannya?
Jawabnya: Adalah Rasulullah SAW selalu periang orangnya, pekertinya
mudah dilayan, seialu berlemah-lembut, tidak keras atau bengis, tidak
kasar atau suka berteriak-teriak, kata-katanya tidak kotor, tidak banyak
bergurau atau beromong kosong segera melupakan apa yang tiada
disukainya, tidak pernah mengecewakan orang yang berharap kepadanya,
tidak suka menjadikan orang berputus asa. Sangat jelas dalam perilakunya
tiga perkara yang berikut. Dia tidak suka mencela orang dan
memburukkannya. Dia tidak suka mencari-cari keaiban orang dan tidak
berbicara mengenai seseorang kecuali yang mendatangkan faedah dan
menghasilkan pahala.
Apabila
dia berbicara, semua orang yang berada dalam majlisnya memerhatikannya
dengan tekun seolah-olah burung sedang tertengger di atas kepala mereka.
Bila dia berhenti berbicara, mereka baru mula berbicara, dan bila dia
berbicara pula, semua mereka berdiam seribu bahasa. Mereka tidak pernah
bertengkar di hadapannya. Dia tertawa bila dilihatnya mereka tertawa,
dan dia merasa takjub bila mereka merasa takjub. Dia selalu bersabar
bila didatangi orang badwi yang seringkali bersifat kasar dan suka
mendesak ketika meminta sesuatu daripadanya tanpa mahu mengalah atau
menunggu, sehingga terkadang para sahabatnya merasa jengkel dan kurang
senang, tetapi dia tetap menyabarkan mereka dengan berkata: “Jika kamu
dapati seseorang yang perlu datang, hendaklah kamu menolongnya dan
jangan mengherdiknya!”. Dia juga tidak mengharapkan pujian daripada
siapa yang ditolongnya, dan kalau mereka mahu memujinya pun, dia tidak
menggalakkan untuk berbuat begitu. Dia tidak pernah memotong bicara
sesiapa pun sehingga orang itu habis berbicara, lalu barulah dia
berbicara, atau dia menjauh dari tempat itu.
Ketika diamnya
Berkata
Al-Hasan r.a. lagi: Saya pun menanyakan pula tentang diamnya, bagaimana
pula keadaannya? Jawabnya: Diam Rasulullah SAW bergantung kepada
mempertimbangkan empat hal, iaitu: Kerana adab sopan santun, kerana
berhati-hati, kerana mempertimbangkan sesuatu di antara manusia, dan
kerana bertafakkur. Adapun sebab pertimbangannya ialah kerana
persamaannya dalam pandangan dan pendengaran di antara manusia. Adapun
tentang tafakkurnya ialah pada apa yang kekal dan yang binasa. Dan
terkumpul pula dalam peribadinya sifat-sifat kesantunan dan kesabaran.
Tidak
ada sesuatu yang boleh menyebabkan dia menjadi marah, ataupun
menjadikannya membenci. Dan terkumpul dalam peribadinya sifat
berhati-hati dalam empat perkara, iaitu: Suka membuat yang baik-baik dan
melaksanakannya untuk kepentingan ummat dalam hal-ehwal mereka yang
berkaitan dengan dunia mahupun akhirat, agar dapat dicontohi oleh yang
lain. Dia meninggalkan yang buruk, agar dijauhi dan tidak dibuat oleh
yang lain. Bersungguh-sungguh mencari jalan yang baik untuk maslahat
ummatnya, dan melakukan apa yang dapat mendatangkan manfaat buat
ummatnya, baik buat dunia ataupun buat akhirat
- Beliau biasanya memaafkan musuh dan para sahabat-sahabatnya yang menyakitinya. Di perang Uhud beliau berdoa untuk kaum kafir yang menyebabkan mulutnya berdarah “Ya Allah maafkan mereka yang tidak tahu”
- Beliau sangat penyantun. Beliau biasa memberi minum hewan piaraanya dengan ember dan menunggunya hingga selesai. Beliau membersihkan wajah dan mata kuda tungganganya.
- Ketika dipanggil, beliau menjawab dengan berkata “labaik” (ya!) Beliau tidak pernah melangkahi orang lain. Beliau biasa duduk di kedua kakinya. Ketika menunggang hewan dan melihat ada orang yang berjalan, beliau mengajak orang itu menumpang di hewan tunggangannya.
- Beliau tidak memandang dirinya memiliki kelebihan dibanding lainnya. Ketika sedang berada dalam sebuah perjalanan bersama sahabat-sahabatnya mereka bermaksud memasak seekor kambing. Salah seorang di antara mereka memberikan kambingnya. Ada yang menawarkan diri mengulitinya. Ada yang menawarkan sebagai juru masak. Rasulullah SAW kemudian menawarkan dirinya mencari kayu bakar. Para sahabat berkata “Ya Rasulullah Anda duduk sajalah. Kami yang akan mencari kayunya.” Beliau menjawab “ya! saya tahu Anda semua siap melakukannya. Tetapi saya tidak ingin duduk-duduk saja sementara yang lain bekerja. Allah tidak suka kalau ada yang duduk-duduk saja sedang yang lain bekerja. ” Beliau lalu berdiri dan pergi mencari kayu bakar.
- Ketika beliau mengunjungi sahabat-sahabatnya beliau tidak selalu duduk di bagian depan. Beliau mencari tempat yang kosong. Ketika beliau datang, sahabat-sahabatnya cepat-cepat berdiri. Beliau berujar “janganlah kalian berdiri untuk menghormatiku bersikaplah biasa seperti ketika kalian kedatangan orang lain. Saya seperti orang lain. Saya makan seperti yang lainnya. Sayapun duduk kalau lelah.”
- Seringkali Nabi duduk di kedua lututnya. Beliau juga pernah berdiri menggunakan lututnya ketika memeluk menyambut sahabat-sahabatnya. Beliau tidak pernah membedakan makanan untuknya dan para pembantunya, demikian juga dalam hal berpakaian. Beliau sering membantu pelayannya menyelesaikan pekerjaan. Beliau tidak pernah menyumpahi atau menyakiti orang lain. Anas bin Malik, yang setia melayaninya berkata, “aku menjadi pelayan Rasulullah selama 10 tahun. Beliau membantuku lebih sering dibanding aku membantunya. Beliau tidak pernah memarahiku. Beliau tidak pernah berkata kasar kepadaku.”
- Beliau suka menambal sendiri pakaiannya yang sobek, memerah susu kambingnya, dan memberi minum hewan piaraannya. Beliau sering membawa barang-barang belanjaan sendiri ke rumahnya. Dalam perjalanan, beliau sering memberi makan hewan tunggangannya. Kadang-kadang beliau melakukannya sendiri dan kadang-kadang dilakukan oleh pelayannya.
- Ketika beliau dipanggil dengan sebutan pelayan oleh seorang pelayan, sebuah kebiasaan di Madinah, beliau lalu berjalan dengan pelayan itu beriringan.
- Beliau sering mengunjungi orang yang sakit dan menghadiri pemakamannya. Untuk menggembirakan hati si sakit, beliau mengunjunginya meskipun si sakit kafir atau munafik.
- Setelah beliau melaksanakan sholat subuh di Masjid, beliau menghampiri para sahabatnya sambil berkata: “Adakah yang sakit? Bila ada mari kita mengunjunginya.” Kemudian beliau juga berkata:”adakah yang meninggal?Bila ada mari kita membantunya.”Kemudian beliau sering juga berkata:”adakah di antara kalian yang bermimpi sesuatu? Bila ada mari kita tafsirkan mimpinya.” Bila ada yang meninggal beliau membantu menyiapkan pemakamnnya dan menyolatkannya serta menghadiri pemakamannya.
- Ketika beliau tidak melihat sahabat-sahabatnya selama tiga hari beliau akan menanyaknnya. Bila sahabatnya itu sedang bepergian beliau mendoakannya, atau bila sahabatnya ada di kotanya beliau akan mengunjunginya.
- Beliau selalu mendahului menyambut orang lain yang dijumpainya.
- Beliau suka mengendarai unta, keledai, dan kadang-kadang mengajak orang lain menunggang bersamanya.
- Beliau suka melayani tamunya dan para sahabatnya dan beliau menyatakan: “orang yang paling dekat dengan masyaraktnya adalah orang yang selalu melayani orang lain.”
- Tidak seorang pun pernah menyaksikan beliau tertawa terbahak-bahak. Beliau suka tersenyum kecil. Kadang-kadang gigi depannya tampak ketika beliau tertawa.
- Beliau selalu tampak hati-hati dan cermat. Beliau suka berbicara pelan-pelan. Beliau biasa memulai pembicaraan dengan senyum.
- Beliau tidak pernah berbicara yang mubazir atau tanpa keperluan. Bila beliau memerlukan sesuatu beliau akan berbicara dengan singkat dan jelas. Terkadang beliau mengulangi pembicaraan sampai tiga kali agar bias dipahami.
- Beliau biasa bercanda dengan orang-orang asing, orang yang pernah dikenalnya, anak-anak, wanita tua, dan wanita yang menjadi mahramnya (yang tidak boleh dinikahi). Namun demikian, hal itu tidak membuatnya lupa kepada Allah.
- Tak seorang pun sanggup melihatnya berlama-lama karena kemulyaannya. Bila seseorang melihatnya, ia pasti mulai berkeringat. Beliau sering berkata janganlah engkau ..dirimu! saya bukanlah raja. Saya bukanlah penjahat. Saya adalah anak dari seorang wanita dan saya juga makan daging kering.” Sehingga orang lain hilang kekuatirannya dan menjelaskan masalah yang dihadapinya.
- Beliau tidak memiliki pengawal atau penjaga. Setiap orang dapat menemuinya dan mengutarakan masalahnya.
- Beliau sangat pemalu. Beliau biasa memperhatikan wajah orang yang mengajaknya berbicara.
- Beliau tidak pernah mempermalukan orang akibat kesalahannya. Beliau tidak pernah mengeluhkan orang lain.
- Meskipun beliau orang yang memiliki keutamaan, beliau berkata: “Di antara kalian akulah orang yang paling paham tentang Allah dan paling takut kepada-Nya. Bila kalian tahu apa yang aku ketahui maka kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
- Hatinya sangat mulya dan memiliki keberanian. Di perang Hunain, banyak tentara Muslim lari mengumpulkan harta rampasan perang. Akibatnya di sekitar beliau hanya tinggal beberapa orang saja. Selanjutnya pasukan musuh menyerang secara tiba-tiba dan mereka mengelilingi Rasulullah. Namun Rasululllah tidak bisa ditaklukan.
Label:
Jejak
5/25/2013
Strategi Kepemimpinan Rasulullah SAW
Rasulullah SAW adalah sosok agung yang mampu membimbing sekaligus melindungi siapa pun, menjadi penggerak perjuangan pembela kaum miskin, menyayangi siapapun tanpa kecualik. Pribadi beliau layak untuk kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, khususnya dimulai dari diri kita terlebih dahulu.
Terimakasih http://dhikalovedhea.blogspot.com/ yang sebagian besar adanya post ini,:
Pertama, kualitas moral-personal yang prima, yang dapat disederhanakan menjadi empat, yakni: siddiq, amanah, tabligh, dan fahtanah:
jujur, dapat dipercaya, menyampaikan apa adanya, dan cerdas. Keempat
sifat ini membentuk dasar keyakinan umat Islam tentang kepribadian Rasul
saw. Kehidupan Muhammad sejak awal hingga akhir memang senantiasa
dihiasi oleh sifat-sifat mulia ini. Bahkan sebelum diangkat menjadi
Rasul, ia telah memperoleh gelar al-Amin(yang sangat dipercaya)
dari masyarakat pagan Makkah. Pentingnya kualitas moral yang prima ini
kembali ia tekankan setelah menjadi utusan Tuhan dalam haditsnya:
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
Dari Abu Hurairah, Rasul saw. bersabda: Sesungguhnya aku diutus guna menyempurnakan kebaikan akhlak. (H.R. Ahmad, 8595).
Kedua, Integritas.
Integritas juga menjadi bagian penting dari kepribadian Rasul Saw. yang
telah membuatnya berhasil dalam mencapai tujuan risalahnya. Integritas
personalnya sedemikian kuat sehingga tak ada yang bisa mengalihkannya
dari apapun yang menjadi tujuannya. Ketika dakwahnya sudah mulai
dianggap sebagai gangguan serius oleh masyarakat Makkah, para pemukanya
mencoba membujuk Muhammad untuk berhenti. Namun ia dengan tegas menolak
setiap bujukan tersebut. Puncaknya adalah ketika kepadanya ditawarkan
kedudukan yang tinggi dalam sistem masyarakat Makkah serta sejumlah
besar kekayaan material. Pada lazimnya kedua tawaran tersebut akan
membuat orang goyah pendiriannya. Tetapi tidak demikian halnya dengan
Rasul saw. Dengan sangat tegas namun tetap santun ia menjawab: Kalaupun
mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan
kiriku, aku tetap tak akan bersedia menghentikan dakwah Islam. Tidak ada
yang dapat dipikirkan oleh para pembesar Makkah lagi untuk membobol
benteng integritas Muhammad, dan karena itu mereka pun lalu beralih pada
jalan kekerasan. Namun cara ini pun dihadapinya dengan kesabaran yang
berbuah keberhasilan.
Ketiga, kesamaan di depan hukum.
Prinsip kesetaraan di depan hukum merupakan salah satu dasar terpenting
manajemen Rasul saw. Menanggapi sebuah masyarakat yang memberlakukan
hukuman potong tangan kepada pencuri dari kelas bawah, tetapi tidak
menerapkannya kepada pencuri dari kalangan atas, Rasul saw. dengan tegas
bersabda:
وَاللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَاهَا
Demi Allah, kalau sekiranya Fathimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya. (H.R. Bukhari, 3216)
Keempat, Penerapan pola
hubungan egaliter dan akrab. Salah satu fakta menarik tentang
nilai-nilai manajerial kepemimpinan Rasul saw. adalah penggunaan konsep sahabat (bukan
murid, staff, pembantu, anak buah, anggota, rakyat, atau hamba) untuk
menggambarkan pola hubungan antara beliau sebagai pemimpin dengan
orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya. Sahabat dengan jelas
mengandung makna kedekatan dan keakraban serta kesetaraan. Berbeda
dengan, misalnya, murid, staff, atau pengikut yang kesemuanya
berkonotasi tingkatan tinggi-rendah. Sahabat lebih bermuatan kerjasama
dua arah, saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Sahabat terasa
sedemikian dekat, seolah tanpa jarak. Konsep persahabatan memang
benar-benar tepat menggambarkan realitas hubungan yang terbina antara
Rasul saw. dengan orang-orang di sekitarnya. Inilah antara lain
motivator yang telah membuat para sahabat rela mengorbankan apa saja
(seperti jiwa, raga, harta, waktu) demi perjuangan Rasul saw. Sebab di
dalam hati mereka merasakan bahwa cita-cita Rasul saw. adalah juga
cita-cita mereka sendiri, dan keberhasilan beliau adalah juga
keberhasilan mereka.
Kelima, kecakapan membaca kondisi dan merancang strategi.
Keberhasilan Muhammad saw. sebagai seorang pemimpin tak lepas dari
kecakapannya membaca situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta
merancang strategi yang sesuai untuk diterapkan. Model dakwah rahasia
yang diterapkan selama periode Makkah kemudian dirubah menjadi model
terbuka setelah di Madinah, mengikuti keadaan lapangan. Keberhasilan
Rasul saw. dan para sahabatnya dalam perang Badr jelas-jelas berkaitan
dengan penerapan sebuah strategi yang jitu. Demikian pun peristiwa pahit
perang Uhud, adalah saksi kegagalan dalam menerapkan strategi yang
sesungguhnya sudah tersusun rapi dan rinci.
Keenam, tidak mengambil kesempatan dari kedudukan.
Rasul Saw. wafat tanpa meninggalkan warisan material. Sebuah riwayat
malah menyatakan bahwa beliau berdoa untuk mati dan berbangkit di
akhirat bersama dengan orang-orang miskin. Jabatan sebagai pemimpin
bukanlah sebuah mesin untuk memperkaya diri. Sikap inilah yang membuat
para sahabat rela memberikan semuanya untuk perjuangan tanpa perduli
dengan kekayaannya, sebab mereka tidak pernah melihat Rasul saw. mencoba
memperkaya diri. Kesederhanaan menjadi trade mark kepemimpinan
Rasul saw. yang mengingatkan kita pada sebuah kisah tentang Umar ibn
al-Khattab. Seseorang dari Mesir datang ke Madinah ingin bertemu dan
mengadukan persoalan kepada khalifah Umar ra. Orang tersebut benar-benar
terkejut ketika menjumpai sang khalifah duduk dengan santai di bawah
sebatang kurma. Tak ada tanda-tanda bahwa ia adalah seorang pemimpin
besar yang sangat berkuasa—ia tak berbeda dari orang-orang yang
dipimpinnya.
Ketujuh, visioner–futuristic. Sejumlah
hadits menunjukkan bahwa Rasul saw. adalah seorang pemimpin yang
visioner, berfikir dan mereka masa depan. Meski tidak mungkin merumuskan
alur argumentasi yang digunakan olehnya, tetapi banyak hadits Rasul
saw. yang dimulai dengan kata ‘akan datang suatu masa…’, lalu
diikuti sebuah deskripsi berkenaan dengan persoalan tertentu. Kini,
setelah sekian abad berlalu, banyak dari deskripsi hadits tersebut yang telah mulai terlihat dalam realitas nyata. Berikut adalah beberapa contoh hadits futuristik:
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَمِنْ حَلَالٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
Akan datang satu masa ketika orang tak perduli lagi
dengan cara apa ia mendapatkan harta, dengan halal atau haram. (H.R.
Bukhari, 1941)
وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يَدْرِي
الْقَاتِلُ فِي أَيِّ شَيْءٍ قَتَلَ وَلَا يَدْرِي الْمَقْتُولُ عَلَى
أَيِّ شَيْءٍ قُتِلَ
Demi Tuhan yang menguasai jiwaku, akan datang satu
masa ketika seorang pembunuh tak tahu lagi kenapa ia membunuh, dan orang
yang terbunuh tak tahu kenapa ia dibunuh. (H.R. Muslim, 5177)
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَقُومُونَ سَاعَةً لَا يَجِدُونَ إِمَامًا يُصَلِّي بِهِمْ
Manusia akan mencapai suatu masa ketika suatu waktu
mereka berdiri (untuk salat) dan tak menemukan seorang yang bisa menjadi
imam. (H.R. Ibn Majah, 972)
Kedelapan, menjadi prototipe bagi seluruh prinsip dan ajarannya.
Pribadi Rasul Saw. benar-benar mengandung cita-cita dan sekaligus
proses panjang upaya pencapaian cita-cita tersebut. Beliau adalah
personifikasi dari missinya. Oleh karena itu ia dengan mudah dimengerti
dan dengan berhasil menggerakkan masyarakatnya untuk sama-sama berupaya
keras mencapai tujuan bersama. Terkadang kita lupa bahwa kegagalan
sangat mudah terjadi manakala kehidupan seorang pemimpin tidak
mencerminkan cita-cita yang diikrarkannya. Sebagaimana sudah disebut di
atas, Rasul saw. selalu menjadi contoh bagi apa pun yang ia anjurkan
kepada orang-orang di sekitarnya.
Selaku umat Islam, merupakan kewajiban bagi kita untuk
mengikuti, mencontoh dan menteladani semua perilaku terpuji Rasulullah
yang lebih dikenal dengan istilah akhlakul karimah. Akhlakul karimah
tersebut dapat kita temui dalam berbagai literatur baik berupa sirah
nabawiyah, riwayat-riwayat sahabat beliau, maupun firman Allah yang
termaktub dalam Al-Qur’an. Bahkan sebagai pengamal dzikrullah kita telah
mengenal dzikir Lathaif, yang merupakan senjata ampuh untuk menanamkan
akhlakul karimah dan membunuh berbagai macam akhlak tercela.
Lathaif merupakan bentuk jamak
dari lathifah, yang artinya zat yang sangat halus atau lembut. Lathaif
yang dikenal dalam amalan thariqat Naqsyabandiyah secara umum adalah
sebagai berikut :
Ø Lathifathul Qalbi: merupakan
sentral dari rohaniah manusia dan merupakan induk dari latifah-latifah
lainnya. Mazmumahnya (keburukannya) adalah hawa nafsu iblis dan setan,
cinta dunia, kafir dan sirik. Mahmudahnya (kebaikannya) adalah iman,
Islam, tauhid makrifat dan malaikat
Ø Lathifatur Ruh : berhubungan
dengan paru-paru atau ruh jasmani. Mazmumahnya adalah sifat-sifat yang
tidak disukai oleh Allah yaitu sifat loba, tamak, rakus dan bakhil.
Sifat mazmumah lathifatur ruh ini juga dikatakan sifat Bahimiyah yaitu
sifat binatang ternak yang suka mengikuti hawa nafsu, makan, tidur,
seksual bersenang-senang dan segala sifat buruk lainnya. Mahmudahnya,
dengan hilangnya semua sifat sifat buruk tadi berganti dengan sifat
qanaah yaitu sifat menerima dengan syukur apa yang ditetapkan oleh Allah
untuknya, sambil berusaha menurut cara yang wajar sesuai dengan
ketentuan syari’at Allah SWT.
Ø Lathifatus Sir : berhubungan
dengan hati kasar jasmani. Mazmumahnya adalah amarah (buas), pemarah,
pembengis dan pendendam kesumat. Sifat-sifat itu dikatakan juga sifat
Subu’iyah (sifat binatang buas) yang suka berbuat onar, kekejaman,
penganiayaan, permusuhan, penindasan, penzaliman dan sebagainya.
Mahmudahnya manakala lenyap sifat mazmumahnya, bergantilah dengan sifat
kesempurnaan, terutama sifat rahman dan rahim.
Ø Lathifatul Khafi : berhungan
dengan limpa jasmani. Sifat mazmumah latifatul khafi ini dikatakan juga
sifat Syaithaniyah yang menimbulkan sifat was-was, khasad dengki,
khianat, cemburu, dusta, busuk hati, munafik mungkir janji dan
sebagainya. Mahmudahnya sifat syukur, ridho, sabar dan tawakkal.
Ø Lathifatul Akhfa : berhubungan
dengan empedu jasmani. Mazmumahnya adalah segala sifat keakuan antara
lain sombong, takabbur, ria, loba tamak, ujub (membanggakan diri) dan
segala sifat-sifat keakuan yang lain, seperti akulah yang pandai, akulah
yang kaya, akulah yang gagah. Sifat mazmumah lathifatul akhfa ini
dikatakan juga sifat Rububiyah atau sifat Rabbaniyah yaitu sifat yang
hanya pantas bagi Allah SWT, sebab dialah pada hakekatnya yang memiliki
dan mengatur alam semesta ini. Mahmudahnya adalah sifat ikhlas, khusuk,
tadarruk dan diam untuk bertafakkur terhadap keagungan dan kebesaran
Allah SWT.
Ø Lathifatu Nafsin Nathiqah : berhubungan
dengan otak jasmani. Mazmumahnya panjang angan-angan, banyak khayal dan
selalu merencanakan hal-hal yang jahat untuk memuaskan hawa nafsu.
Mahmudahnya nafsul muthmainnah yaitu sifat sakinah, tentram, berfikir
tenang.
Ø Lathifatu Kulli Jasad : Mazmumahnya adalah jahil, lalai, malas dan sebagainya. Mahmudah adalah
berilmu dan beramal sesuai dengan syariat dan hakikat.
Label:
Jejak




