Home » , » Konsep Memancing Harimau Turun Gunung

Konsep Memancing Harimau Turun Gunung

Written By Ikhsan Firdaus on Tuesday, January 08, 2013 | 1/08/2013

Impian Amerika mengatakan bahwa siapa saja dapat membangun kehidupan dan karier yang sukses melalui kerja keras dan hidup hemat. Tetapi preskripsi sederhana ini tidak lagi berlaku dalam dunia yang kompleks dan lingkungan bisnis yang sangat kejam dewasa ini.

Semakin banyak orang Barat berpaling kepada kebijakan Timur untuk mendapatkan petunjuk menghadapi tantangan dan ketegangan dari kehidupan modern. Sebagian telah mengambil inspirasi dari filsafat Zen Budhisme yang toleran dan nonmaterialistis. Yang lain mencoba mengantisipasi pasang surutnya kehidupan mereka di masa depan dengan tos sekeping uang logam dan mengkaji incerprerasi dari heksagram yang terdapat dalam karya klasik Cina, Kitab Perubahan (I Ching). Sebagian mencari kunci atas kejadian yang menjurus pada hubungan antara hukum alam dan hukum perilaku manusia yang dipaparkan oleh filsuf Cina Lao Zi dalam Kitab tentang Jakm (Dao De Jing), teks klasik Taoisme. Yang lain-lain lagi memilih untuk melancarkan perjuangan sesuai dengan nasihat Sun Zi, ahli strategi militer Cina Kuno, pengarang Seni Perang (Sun Zi Bingfa).

Buku ini memperkenalkan suatu ikhtisar kebijakan Cina Kuno yang tidak banyak dikenal di Barat-tiga puluh enam siasat yang abadi. Berbeda dengan Seni Perang dan Kitab tentang Jalan, siasat ini tidak dikarang oleh seorang genius saja, melainkan oleh para pemimpin dan ahli siasat militer, politikus, saudagar, filsuf, penulis, dan bahkan rakyat biasa yang tidak terbilang banyaknya. Siasat ini tidak dituliskan sekaligus pada satu ketika melainkan dielaborasi, diperkaya, dan disempurnakan secara berangsur-angsur selama lima ribu tahun sejarah peperangan, kudeta, intrik istana, inovasi ekonomi serta kompetisi, dan bahkan perkembangan permainan Go (Weiqi)-yang, dengan kemungkinan konfigurasi kekuasaan sebanyak 10 hingga 761, adalah jauh Iebih rumit ketimbang catur Barat yang hanya memiliki kemungkinan konfigurasi kekuasaan sebanyak 10 hingga 120.
Tiga puluh enam siasat ini mempunyai manfaat praktis bagi siapa saja yang berminat memahami dinamika sejarah, politik, bisnis, dan hubungan manusiawi, dan memperkuat kehidupan atau kariernya. Masing-masing memberikan penjelasan atas fenomena yang beraneka ragam dari spionase intemasional, pengambilalihan perusahaan, kecelakaan mobil, dan rengekan anak-anak. Juga tersedia nasihat yang dapat diterapkan dalam segala hal mulai dari berpacaran hingga teknik menjual, dari tenis hingga teknologi, dan dari pengajaran hingga manufaktur. Apakah Anda sedang memulai suaui usaha baru atau menyempurnakan yang ada, apakah Anda berada di tempat yang sudah dikenal atau di wilayah yang belum dijajaki, apakah Anda merupakan orang bawahan, sederajat dengan yang lain-lain, atau berada di puncak tangga, tiga puluh enam siasat ini tentu akan menghasilkan sesuatu yang bakal relevan dengan situasi Anda.

Secara keseluruhan, tiga puluh enam siasat ini mengajarkan suatu cara berpikir, menyediakan suatu sarana untuk memahami perilaku orang lain, termasuk tindakan yang disengaja maupun yang tidak, dan untuk menganalisis segala macam situasi, yang muncul secara tidak disengaja maupun yang dirancang. Individu yang menguasai tiga puluh enam siasat ini akan mendapatkan alat untuk mengembangkan solusi terhadap segala jenis masalah dan menyesuaikan diri dengan segala macam kemungkinan.
Kalaupun Anda merupakan salah seorang di antara mereka yang beruntung dan puas atas nasib Anda, tiga puluh enam siasat ini akan menjadi bacaan yang menyenangkan dan mencerdaskan. Buku ini akan membawa Anda ke daerah terpencil dalam sejarah Cina yang berusia 5.000 tahun, dengan kisah-kisah yang tidak terhitung jumlahnya, baik yang benar maupun yang diragukan, mengenai kecerdikan dan kebodohan, ketekunan dan kecerobohan, kesetiaan dan rasa tidak berterima kasih, kemenangan dan kekalahan. Cerita-cerita ini diambil dari dua puluh empat jilid kronik sejarah, karya sastra klasik seperti Roman Tiga Kerajaan (Sanguo Yanyi), dan karya modern, termasuk tulisan Mao Zedong-yang dengan lihai menggunakan tiga puluh emam siasat ini dalam melawan Chiang Kai-shek dan Jepang.

Para pembaca yang sudah mengenal karya klasik Cina lainnya akan menemukan beberapa tema yang tidak asing lagi dalam tiga puluh enam siasat ini. Misalnya, angka tiga puluh enam itu sendiri berasal dari filsafat kesatuan hal-hal yang bertentangan, yang dipaparkan dalam Kitab Perubahan sebagai konsep yin dan yang. Yin dan yang merupakan dua kategori yang saling melengkapi dalam alam semesta; segala sesuatu dalam dunia ini dianggap termasuk salah satu dari keduanya. Yin adalah unsur perempuan, yang termanifestasikan dalam bumi, angin, air, dan rawa-rawa serta dihubungkan dengan kegelapan dan ketertutupan, sedangkan yang, unsur lelaki, termanifestasi dalam langit, guntur, api, dan gunung dan diasosiasikan dengan terang dan keterbukaan. Orang Cina Kuno menganggap rencana dan siasat, yang sering direncanakan dan diterapkankan secara diam-diam, sebagai termasuk dalam yin. Konsep yin dalam Kitab Perubahan diwakili oleh heksagram untuk “bumi”. Heksagram ini terdiri atas enam garis, dengan masing-masing garis terputus menjadi dua segmen, sehingga menghasilkan dua kolom yang terdiri atas enam garis pendek, yang hasil kalinya adalah tiga puluh enam.

Filsafat kesatuan dari hal-hal yang berlawanan muncul di seluruh tiga puluh enam siasat ini. Prinsip bahwa interaksi yin dan yang menentukan perkembangan peristiwa terlihat pada banyak sekali hubungan yang dijelajahi dalam siasat ini-antara sikap ofensif dan defensif, kekuatan dan kelenturan, keteraturan dan kemendadakan, kosong dan isi, musuh dan diri sendiri, tamu dan tuan rumah, kerja dan istirahat, dan banyak lagi.
Sebuah prinsip lain dari unit yang berlawanan adalah bahwa suatu kualitas atau entitas dapat berubah menjadi lawannya. Dengan keadaan yang tepat, yang lemah dapat mengalahkan yang kuat, yang kecil dapat menaklukkan yang besar, dan musuh dapat berubah menjadi teman. Transformasi itu boleh jadi tidak direncanakan atau tidak dapat dihindari: hippies berubah menjadi Yuppies; revolusi seksual membuka jalan bagi era AIDS; dan perlombaan senjata nuklir melahirkan negosiasi yang bertujuan memusnahkan senjata tersebut. Juga ini bisa merupakan hasil strategi dari satu atau lebih pihak.
Sejarah militer, percaturan politik, dan bisnis memberikan banyak sekali contoh mengenai transformasi yang direkayasa manusia:
• Saksikan bagaimana Mao Zedong mengalahkan secara total Chiang Kai-shek segera sesudah Perang Dunia II. Ketika perang penentuan dimulai, Chiang memiliki delapan juta pasukan dan perangkat keras militer AS bernilai beberapa miliar dolar, sedangkan Mao hanya mempunyai pasukan kurang dari satu juta orang yang dipersenjatai dengan senapan-senapan tua Jepang. Dalam tiga tahun, Mao melancarkan tiga perang besar melawan Chiang, yang terbesar memusnahkan lebih dari setengah juta pasukan terbaik Chiang. Hasilnya sudah diketahui dengan jelas: Mao mendirikan Republik Rakyat Cina pada tahun 1949, dan Chiang lari ke Taiwan.

• Kepentingan bersama Mao dan Richard Nixon dalam mengembangkan suatu kekuatan tandingan terhadap Uni Soviet telah mempersatukan musuh-musuh lama ini. Mao, setelah mencerca “imperialisme AS” selama beberapa dasawarsa, pada tahun 1972 mengundang Nixon, yang membangun karier politik di atas dasar antiko-munisme, ke Cina. Demikianlah proses normalisasi hubungan AS-Cina dimulai.

• Melalui kekuatan kenegarawan dan kepribadiannya, Mikhail Gorbachev mengubah citra Amerika terhadap Uni Soviet. Ronald Reagan, yang mencap Uni Soviet “kerajaan setan” pada awal jabatan kepresidenannya pada tahun 1981, dengan hangat menyambut Gorbachev di New York pada tahun 1988, dan penduduk New York berkumpul sepanjang rute iring-iringan mobil Gorbachev untuk mengelu-elunya. Pol pendapat umum memperlihatkan kepopulerannya berada di atas kepopuleran George Bush, presiden terpilih waktu itu.

• Charles Wang, kepala sebuah anak pemsahaan gurem dari perusahaan elektronik Swiss, ditertawai ketika pada tahun 1983 ia berbicara tentang kemungkinan menjadi produsen perangkat lunak independen terbesar di dunia. Belakangan perusahaan ini menelan induknya serta sejumlah pesaing dan akhirnya mencaplok lawan utamanya. Kini, Computer Associates International bahkan mengecilkan raksasa perangkat lunak yang populer seperti Microsoft Corporation dan Lotus Development Corporation.

• Menyadari bahwa dua pertiga minuman ringan yang dikonsumsi di Amerika Serikat adalah kola, para pembuat Seven-Up menemu-kan sebuah fonnula sukses pada posisi “bukan-kola”.
Strategi telah lama dikaitkan dengan medan perang, tetapi puncak pencapaian strategi adalah menang tanpa menggunakan persenjataan. Sebagaimana dikemukakan Sun Zi, “Menaklukkan musuh tanpa berperang merupakan puncak dari keahlian.
Sebenarnya, dengan strategi saja, orang bisa berhasil padahal sementara dengan peperangan bisa gagal. Seorang pembesar istana pada zaman dulu yang bernama Yan Ying sangat menyadari hal ini. Yan Ying bekerja untuk Negara Qi semasa periode musim semi dan gugur (722-481 SM). Ketika Cina terpecah menjadi beberapa kerajaan, masing-masing kerajaan berusaha mencaplok kerajaan lain. Kisah berikut ini memperlihatkan bagaimana Yan Ying menggunakan kehalusan diplomasi untuk menghalangi Negara Jin yang lebih besar dan lebih kuat:
Raja Jin telah mengirimkan seorang duta bernama Fan Zhao ke Qi untuk menyelidiki apakah Qi rentan terhadap serangan. Raja Qi, yang tidak ingin menimbulkan kemarahan negara yang lebih kuat itu, mengadakan perjamuan bagi Fan Zhao. Pada perjamuan ini Fan Zhao minta minum dari cangkir arak sang raja, dan raja setuju. Tetapi, Yan Ying merebut cangkir raja itu dari bibir Fan Zhao dan menggantikannya dengan yang lain. Kemudian Fan Zhao berpura-pura mabuk dan meminta agar orkes istana memainkan musik istana untuk mengiringinya menari. Yan Ying kembali menghalangi. Fan Zhao dalam amarah meninggalkan perjamuan ini. Raja Qi cemas dan memarahi Yan Ying karena memalukan duta tadi, sambil mengantisipasi terjadinya suatu serangan sebagai akibatnya. Sementara itu, Fan Zhao kembali ke Jin dan melaporkan bahwa scwaktu ia mencoba melanggar etika istana, Yan Ying segera berhasil menerka maksudnya. Raja Jin sependapat baliwa dengan Qi berada dalam keadaan tertib seperti itu, invasi merupakan hal keliru.
Khong Hu Cu yang bijaksana, yang ketika insiden ini terjadi baru berumur empat tahun, setelah dewasa memberikan komentar disertai perasaan kagum bahwa Yan Ying berhasil menggagalkan sebuah rencana invasi dari jarak beribu-ribu mil jauhnya “tanpa beranjak melebihi meja perjamuan.”
Strategi dapat merupakan hal vital dalam situasi yang tidak menguntungkan, seperti yang dihadapi Negara Qi itu, tetapi dapat juga esensial ketika orang berada pada situasi yang menguntungkan. Tiga puluh enam siasat ini dibagi dalam enam bagian, tiga yang pertama dimaksudkan untuk digunakan bila berada pada kedudukan yang kuat, tiga yang kedua bila berada pada posisi yang lemah. Secara spesifik, keenam kategori itu adalah: (1) siasat ketika berposisi lebih unggul, (2) siasat melancarkan konfrontasi, (3) siasat menyerang, (4) siasat untuk situasi kacau, (5) siasat mendapatkan penerimaan lawan, dan (6) siasat untuk situasi yang sangat sulit.
Akan tetapi, klasifikas ini memang tidak dibuat secara kaku; sebaliknya, selama beberapa ribu tahun mempraktekkan dan menyempurnakan teknik ini, para ahli strategi militer Cina menyadari bahwa prinsip yang tertinggi dari semuanya adalah keluwesan. Sun Zi mengakui nilai keluwesan ketika ia menyamakan kemampuan beradaptasi dalam peperangan dengan perilaku air, yang mengubah alirannya mengikuti keadaan tanah. Lao Zi, filsuf Taois, menyadari kekuatan keluwesan ketika ia mengamati bahwa air adalah unsur yang paling lemah namun sekaligus kekuatan pengikis yang paling perkasa. Ahli strategi yang baik, seperti air di atas batu, mengalah kepada lapangannya demi mengikis rintangan yang paling keras. Mereka tidak hanya membatasi diri mereka pada siasat yang seolah-olah cocok dengan keadaan mereka, melainkan memadukan dan menyesuaikannya menurut kondisi yang sebenarnya. Anda dapat mengkombinasikan beberapa siasat dari kelompok yang sama atau menggunakan paduan kelompok lain. Singkatnya, kaidah terakhir untuk menerapkan siasat ini adalah tidak mengikuti kaidah apa pun.
Buku ini menyediakan satu bab untuk  siasat dari seluruh tiga puluh enam siasat ini. Dalam bahasa Cina, setiap siasat dapat dirangkum dalam sebuah ungkapan yang ringkas dan tajam yang terdiri atas tiga atau empat karakter. Untuk masing-masing siasat, diberikan juga translitasi pinyin. Asal mula sejarah dan legenda siasat ini ditelusuri melalui kisah dan anekdot yang menguraikan penggunaannya. Nilai kekalnya sebagai perkakas analisis dan pedoman aksi diuraikan dengan contoh yang diambil dari masa kini. Juga disertakan petunjuk pemakaiannya dalam menjalankan karier, dalam hubungan pribadi, dan masalah kehidupan sehari-hari.
Sumber: Gao Yuan, “Lure the Tiger out of the Mountains: The 36 Strategems of Ancient China,” Simon & Schuster, New York, 1991.
Diterjemahkan oleh Setiawan Abadi dan diterbitkan oleh Pustaka Utama Grafiti (Jakarta) pada 1993 menjadi “Memancing Harimau Turun Gunung: 36 Strategi Perang Cina Kuno.”
Untuk putra keduaku, Gabriel Tianjiao Gao, dengan harapan agar generasinya menggunakan pengetahuan militer kuno ini bukan untuk perang melainkan untuk memperjuangkan perdamaian.
Share this article :

+ komentar + 1 komentar

11:26:00 AM

saya pernah memiliki buku ini, sangat bagus untuk dibaca dan dipahami :)

Post a Comment

Terimakasih bila Anda menuliskan komentar disini

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.

Daftar Isi

Recent Post

Download Gratis

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Blogs Aksara - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger