Home » , » Sosok Pemimpin: Karakter dan Kredibilitas

Sosok Pemimpin: Karakter dan Kredibilitas

Written By Ikhsan Firdaus on Sunday, July 20, 2014 | 7/20/2014

2014 adalah tahun politik, pesta demokrasi. Di mana Indonesia mengusung politik demokrasi yang bersih, ternyata masih belum terlepas pada praktik politik uang.

Dilansir dari koran Sindo, sabtu (22/03/2014) pada kolom Rakyat Memilih. Hal yang menjadi poin penting di sana adalah tagline “Indonesia Peringkat Kedua Politik Uang”. Ditulis bahwa: “Pakar politik dari Australian National University (ANU), Edward Aspinall menyatakan, hasil penelitiannya saat ini, di Asia Tenggara, Indonesia menempati urutan kedua, negara-negara tertinggi praktik politik uang dalam tiap proses pemilu yang dilakukan di Negeri ini. Sementara posisi teratas adalah Philipina, sedangkan Thailand, menurutnya bersifat kasuistik.”

Mungkin inilah penyebab Indonesia menjadi negara yang regresif. Saat ini praktik politik uang di Indonesia menjadi semacam budaya perpolitikan. Targetnya adalah rakyat yang sedang ‘menegar-negarkan’ diri bertahan di bawah garis kemiskinan. Orang-orang yang berharap lebih pada sosok pemimpin yang baik, namun justru dijerumuskan kembali pada lubang kemiskinan yang lebih dalam.
Budaya semacam ini membuat semakin banyak melahirkan pemimpin-pemimpin yang menipu rakyatnya sendiri demi kepentingan pribadi. Apa ini adil? Sebutan apa yang pantas pada calon-calon pemimpin Negeri seperti ini? Jika praktik politik uang masih saja menjadi budaya bagi para calon pemimpin, hal ini akan mengakibatkan hilangnya kepercayaan rakyat pada sosok pemimpin. Dan figur atau sosok pemimpin hanya akan menjadi cerita dongeng yang jauh dari Negeri antah berantah. Jadi, jangan hanya menyalahkan rakyat jika pada akhirnya lebih memilih bersikap defensif (bertahan) dengan beranggapan bahwa tidak ada satu pun sosok yang pas untuk menjadi seorang pemimpin. Negeri ini memang sudah seperti perahu besar yang sedang bocor di sana-sini, harapan terbaik rakyat adalah dipimpin oleh pemimpin yang mampu membawa perahu bocor ini menyeberang dan melewati badai dengan selamat tanpa mengorbankan satu nyawa pun.

Mengutip buku yang ditulis Dr. H. Dedi Rianto Rahadi dan Dr. Kristina Sedyastuti yang berjudul Menuju Kewirausahaan Sosial, “Seorang Pemimpin adalah orang yang memimpin, jadi harus yang pertama dan yang pertama belum tentu yang nomor satu. Seorang pemimpin yang handal selalu pertama melangkah untuk membuka ‘lahan’ atau yang pertama maju menyerang, karena dia mempunyai strategi, visi, dan misi yang kuat.”
Namun saat merayakan kemenangan, seorang pemimpin justru harus membiarkan rakyatlah yang pertama kali menikmati kemenangan itu, bukan dirinya. Jika diadopsi ke dalam sudut pandang saat ini, itu berarti rakyatlah yang harus dilayani. Menjadi pemimpin itu tidaklah mudah. Dan hal ini memerlukan usaha juga kerendahan hati seorang pemimpin.

Setelah menyaring informasi terpenting, ada tahapan di mana kita kemudian memadatkan definisi tentang sosok pemimpin dan bagaimana cara memilih pemimpin sesuai yang diharapkan rakyat. Sadarilah bahwa politik adalah sebuah permainan kepribadian tiap pemimpin. Ada beberapa poin yang bisa rakyat terapkan untuk menganalisis jenis pemimpin, dalam buku Put Your Power in Your Personality yang ditulis Florence Littauer tentang analisa pemimpin-pemimpin besar sesuai dengan jenis karakter dasar manusia, yaitu pemimpin dengan empat pola kepribadian. Si Populer, si Sempurna, si Damai, dan si Kuat.
Dalam analisanya Florence mengatakan kita bisa menjadi ahli psikologi amatir dan menganalisis tipe-tipe pemimpin yang mendekati harapan. Ketika kita sudah mengenal karakter dasar para calon pemimpin, paling tidak kita bisa memproyeksikan kemungkinan kelemahannya.
  • Si Populer, adalah tipe pemimpin yang menggabungkan bicara dan bekerja, janji dan perlindungan, kepribadian dan kedudukan, keyakinan dan pesona. Kekuatan pada kepribadian tipe ini adalah seorang pemimpin yang antusias, optimis, ramah, mempesona, dan memberi inspirasi. Namun kelemahannya adalah terlalu banyak bicara, buruk dalam tindak lanjut, dan tidak displin.
  • Si Sempurna, adalah tipe pemimpin yang mempunyai perspektif luas, rinci, detail, artistik, perasa terhadap orang lain, mengatur di atas kertas, bertujuan jangka panjang, berorientasi jadwal, analitis, cerdas, dan pemikir dengan kekuatan pertimbangan akal. Kelemahannya adalah kaku, jarang tersenyum, terlalu perfeksionis dan perasa, mudah tertekan jiwanya dan mudah curiga.
  • Si Pencinta Damai, adalah tipe pemimpin adil, jujur dan tidak menyimpang, tidak tergoyahkan oleh emosi atau kesempatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Pemimpin dengan pola karakter seperti ini adalah orang yang mau diajak bekerjasama, diplomatis dan berprofil rendah, sabar, penuh tujuan, administratif, dan penengah dengan kemampuan mendengarkan. Kelemahannya yaitu seorang yang pasif, terlalu mudah menerima, membosankan, takut dan khawatir, tidak antusias, suka menunda-nunda dan tidak memotivasi diri.
  • Si Kuat, adalah tipe pemimpin yang paling berpengaruh karena keinginan bawaan mereka untuk memimpin. Tipe pemimpin seperti ini selalu menjalankan proyek, bekerja dengan pikiran bisnis, gigih, praktis, kepribadian yang menguasai, pemikir logis, dinamis, unggul dalam keadaan darurat, berorientasi pada tujuan, dan berkeyakinan kuat. Namun tetap memiliki kelemahan yaitu suka memerintah, bukan pemain tim, tidak toleran, cepat marah, mengambil keputusan impulsif, dan tidak sabaran. 
Florence berpendapat dari empat pola karakter ini, seseorang juga bisa menggabungkan beberapa tipe kepribadian yang paling dominan di dalam dirinya. Itu tergambar ketika kita menemukan bahwa banyak pemimpin-pemimpin berpengaruh yang menunjukkan kelebihan dari karakteristik dasar mereka. Jadi, apapun pola paling dominan pada kepribadian seorang pemimpin. Selalu ada kekuatan dan kelemahan yang menyertainya.
“Membaca.” Itulah poin utama yang dikatakan Florence. Membacalah sebanyak mungkin artikel, buku, resume, dan referensi tentang orang itu dan carilah kata-kata deskriptif yang memberikan penilaian tentang sosok pemimpin ini. Kemudian track record (catatan masa lalu) karena ini bagian penting dan merupakan petunjuk yang jelas tentang apa yang akan dilakukannya di masa mendatang.
Florence juga menegaskan bahwa yang membuat pemimpin itu besar adalah mereka yang mengetahui kekuatan karakter dan kepribadian mereka. Sekaligus tahu membawa diri sebagai pemimpin meskipun berangkat dari latar belakang berbeda, pengetahuan yang berbeda, karakteristik yang berbeda, dan tingkat kematangan berpikir yang berbeda. Dari hal inilah, publik atau rakyat bisa menaruh kepercayaan penuh pada sosok pemimpin yang tentu saja sudah terlebih dahulu mengenal dirinya sendiri.  

Hilangnya Kepercayaan Publik
“Kepercayaan adalah dasar kepemimpinan. Rusak kepercayaan, berakhir pulalah sebuah kepemimpinan.” –Anne Ahira-
Berangkat dari analisa karakter pemimpin melalui empat pola kepribadian yang diulas Florence. Rakyat bisa menilai karakter-karakter pemimpin yang bagaimana yang mampu memimpin Negeri ini pada fase Indonesia yang lebih baik.
Seperti yang juga dijelaskan dalam artikel Anne tentang kepemimpinan bahwa “Seorang pemimpin tidak pernah membuat komitmen kecuali ia melaksanakannya dan ia benar-benar melakukan segalanya untuk menunjukan integritas, sekalipun hal itu tidak nyaman baginya. Seorang pemimpin berkarakter kuat akan dipercayai banyak orang. Kemudian yang terpenting adalah karakter dan kredibilitas selalu berjalan bersama. Kepemimpinan tanpa kredibilitas cepat atau lambat akan hancur.”

Hal inilah yang menjadi sorotan penting yang dilihat dari seorang pemimpin. Indikator lain, pemimpin yang hebat adalah pasti seorang pendengar yang baik dan mau mengimplementasikan harapan-harapan rakyat terhadapnya. Seorang pemimpin seharusnya memiliki karakter kuat, dan mempunyai kredibilitas yang mumpuni.
Saat ‘pesta’ usai, pernyataan yang muncul kemudian adalah “Masih banyak persoalan yang seharusnya tergelar di atas kertas analisa menjadi terjerembab di dalam laci yang dingin dan pengap.”
Itu artinya, setelah Pemimpin baru terpilih, saatnya tanggalkan sentimentalisme karena ada PR-PR besar di Negeri ini yang harus segera diselesaikan. Dan perlu digaris bawahi (sekali lagi) hal itu memerlukan usaha juga kerendahan hati seorang pemimpin.

Semoga rakyat tidak menjadi terlalu naif memilih seorang pemimpin. Rakyat hanya perlu diberikan ruang untuk berpikir siapa yang punya karakter dan kredibilitas pada sosok pemimpin ini. Biarkan rakyat memilih dengan cerdas!

Semoga pemimpin kita kedepan adalah pemimpin yang benar-benar Asli bukan topeng.

Share this article :

Post a Comment

Terimakasih bila Anda menuliskan komentar disini

Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.

Daftar Isi

Recent Post

Download Gratis

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Blogs Aksara - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger