Latest Post
Showing posts with label Petuah. Show all posts
Showing posts with label Petuah. Show all posts

Keajaiban Sedeqah

Written By Unknown on Saturday, November 02, 2013 | 11/02/2013

Kita awali dengan sebuah kisah keajaiban sedekah. Kisah yang menunjukkan bagaimana Allah sangat menghargai amal hamba. Tuhan Yang Maha Mendengar tidak akan menyia-nyiakan kebaikan makhluk yang Dia ciptakan.
Tersebutlah seorang ibu solihah. Beliau memiliki seorang putra yang menjadi tulang punggung keluarga. Di rumahnya yang penuh keterbatasan, sang ibu menunggu kapan putranya pulang. Dia pergi melakukan safar yang jauh. Hingga sang ibu putus asa, sementara sisa makanan tinggal cukup beberapa hari.
Suatu hari sang ibu sedang bersiap untuk menyantap makan siangnya. Ketika beliau mengambil suapan pertama dan siap untuk dilahap, tiba-tiba di depan pintu ada pengemis yang meminta makanan. Beliaupun tidak jadi melanjutkan suapannya. Beliau menaruh suapannya dan menyerahkan satu porsi makanan itu ke pengemis. Sehari itu, sang ibu menahan lapar.
Ternyata selang beberapa hari, tibalah putranya yang lama dia nantikan. Mulailah dia bercerita tentang kejadian yang luar biasa kepada ibunya,
 
Ada kejadian luar biasa yang aku alami. Setelah beberapa hari saya melintasi jalur di daerah tertentu, tiba-tiba keluar seekor singa. Sehingga akupun memegang erat punggung keledai yang aku naiki. Namun singa itu menyerang keledai. Dan kuku singa itu telah mengoyak jaket yang aku bawa, baju dan jubahku. Ketika cakarnya menghantam badanku, saya tercengang dan hampir hilang ingatan. Singa inipun membawaku dan menyeretku ke belukar yang tidak jauh. Dia bersiap untuk mengoyakku.
Tiba-tiba saya melihat orang berbadan besar, wajah dan bajunya putih, datang dan langsung memegang singa tanpa senjata. Dia naik dan pergi menghilang.
Ketika itu, orang besar tadi mengatakan: ‘Berdirilah wahai singa, satu suapan dengan satu suapan.’ Singa itupun berdiri dan lari meninggalkanku.
Akupun mencari lelaki itu, dan aku tidak berhasil menemukannya. Saya duduk menenangkan diri di tempat itu dan kembali mengambil bekal makananku. Akupun memperhatikan badanku, ternyata tidak ada satupun yang terluka. Kulanjutkan perjalanan, hingga aku bisa menyusul rombongan. Mereka sangat terheran melihat kejadian yang kualami. Namun saya kebingungan, apa makna ‘satu suapan dengan satu suapan.’
Mendengar ini, sang ibu memahami. Karena kejadian itu bersamaan dengan peristiwa saat beliau memberikan sedekah makanan. Beliau tidak sempat menelan satu suap, dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Dengan itu, Allah selamatkan anaknya dari ‘suap’ singa.
[Kisah ini disebutkan oleh At-Tanuji dalam kitab: Al-Faraj ba’da As-Syiddah]

Sejuta Keajaiban Sedekah

Sedekah, mendengar namanya, orang sudah kenal keutamaannya. Sedekah berasal dari As-Shidq, artinya jujur. Seorang muslim yang bersedekah berarti dia membuktikan kejujurannya dalam beragama. Betapa tidak, harta yang merupakan bagian yang dia cintai dalam hidupnya, harus dia berikan ke pihak lain. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut sedekah sebagai 'burhan' (bukti). Dalam hadis dari Abu Malik Al-Asy'ari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ูˆَุงู„ุตَّู„َุงุฉُ ู†ُูˆุฑٌ، ูˆَุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉُ ุจُุฑْู‡َุงู†ٌ ูˆَุงู„ุตَّุจْุฑُ ุถِูŠَุงุกٌ، ูˆَุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ُ ุญُุฌَّุฉٌ ู„َูƒَ ุฃَูˆْ ุนَู„َูŠْูƒَ
"Shalat adalah cahaya, sedekah merupakan bukti, sabar itu sinar panas, sementara Al-Quran bisa menjadi pembelamu atau sebaliknya, menjadi penuntutmu." (HR. Muslim 223).
Sedekah disebut 'burhan' karena sedekah merupakan bukti kejujuran iman seseorang. Artinya, sedekah dan pemurah identik dengan sifat seorang mukmin, sebaliknya, kikir dan bakhil terhadap apa yang dimiliki identik dengan sifat orang munafik. Untuk itulah, setelah Allah menceritakan sifat orang munafik, Allah sambung dengan perintah agar orang yang beriman memperbanyak sedekah. Di surat Al-Munafiqun, Allah berfirman,
ูˆَุฃَู†ْูِู‚ُูˆุง ู…ِู†ْ ู…َุง ุฑَุฒَู‚ْู†َุงูƒُู…ْ ู…ِู†ْ ู‚َุจْู„ِ ุฃَู†ْ ูŠَุฃْุชِูŠَ ุฃَุญَุฏَูƒُู…ُ ุงู„ْู…َูˆْุชُ ูَูŠَู‚ُูˆู„َ ุฑَุจِّ ู„َูˆْู„َุง ุฃَุฎَّุฑْุชَู†ِูŠ ุฅِู„َู‰ ุฃَุฌَู„ٍ ู‚َุฑِูŠุจٍ ูَุฃَุตَّุฏَّู‚َ ูˆَุฃَูƒُู†ْ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
Infakkanlah sebagian dari apa yang Aku berikan kepada kalian, sebelum kematian mendatangi kalian, kemudian dia meng-iba: "Ya Rab, andai Engkau menunda ajalku sedikit saja, agar aku bisa bersedekah dan aku menjadi orang shaleh." (QS. Al-Munafiqun: 10).
Untuk itulah, seorang hamba hanya akan mendapatkan hakekat kebaikan dengan bersedekah, memberikan apa yang dia cintai. Allah berfirman,
ู„َู† ุชَู†َุงู„ُูˆุงْ ุงู„ْุจِุฑَّ ุญَุชَّู‰ ุชُู†ูِู‚ُูˆุงْ ู…ِู…َّุง ุชُุญِุจُّูˆู†َ
"Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai kalian infakkan apa yang kalian cintai." (QS. Ali Imran: 92)

Hadis berbicara tentang keajaiban Sedekah

a. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุตุฏู‚ุฉ ุงู„ุณุฑ ุชุทูู‰ุก ุบุถุจ ุงู„ุฑุจ
"Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah" (Shahih At-Targhib, 888)
b.  Dari Ka'b bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ูˆุงู„ุตุฏู‚ุฉ ุชุทูู‰ุก ุงู„ุฎุทูŠุฆุฉ ูƒู…ุง ูŠุทูู‰ุก ุงู„ู…ุงุก ุงู„ู†ุงุฑ
Sedekah bisa memadamkan dosa, sebagaimana air bisa memadamkan api. (Shahih At-Targhib, 866)
c. Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ุฅู† ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ู„ุชุทูุฆ ุนู† ุฃู‡ู„ู‡ุง ุญุฑ ุงู„ู‚ุจูˆุฑ ูˆุฅู†ู…ุง ูŠุณุชุธู„ ุงู„ู…ุคู…ู† ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ููŠ ุธู„ ุตุฏู‚ุชู‡
"Sesungguhnya sedekah akan memadamkan panas kubur bagi pelakunya. Sungguh pada hari kiamat, seorang mukmin akan berlindung di bawah naungan sedekahnya." (Silsilah As-Shahihah, 3484).
Yazid – salah seorang perawi yang membawakan hadis ini – menceritakan: 'Dulu si Martsad, setiap kali melakukan satu dosa di hari itu maka dia akan bersedekah dengan apa yang dia miliki, meskipun hanya dengan secuil kue atau bawang.' (As-Silsilah As-Shahihah, 872).
d. Dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุฏุงูˆูˆุง ู…ุฑุถุงูƒู… ุจุงู„ุตุฏู‚ุฉ
"Obati orang sakit di antara kalian dengan sedekah." (Shahih At-Targhib, 744).
Ibnu Syaqiq menceritakan, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Ibnul Mubarak – guru Imam Bukhari -: 'Saya memiliki luka di lutut selama tujuh tahun, sudah coba diobati dengan berbagai macam cara, sudah konsultasi dokter dan tidak ada perubahan.' Ibnul Mubarak menyarankan, 'Buatlah sumur di daerah yang membutuhkan air. Saya berharap akan menghasilkan sumber air dan menyumbat darah yang keluar.' Diapun melakukannya dan sembuh. (Shahih At-Targhib)
e. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ู…َุง ู…ِู†ْ ูŠَูˆْู…ٍ ูŠُุตْุจِุญُ ุงู„ุนِุจَุงุฏُ ูِูŠู‡ِ، ุฅِู„َّุง ู…َู„َูƒَุงู†ِ ูŠَู†ْุฒِู„ุงَู†ِ، ูَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุฃَุญَุฏُู‡ُู…َุง: ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนْุทِ ู…ُู†ْูِู‚ًุง ุฎَู„َูًุง، ูˆَูŠَู‚ُูˆู„ُ ุงู„ุขุฎَุฑُ: ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุฃَุนْุทِ ู…ُู…ْุณِูƒًุง ุชَู„َูًุง
"Setiap datang waktu pagi, ada dua malaikat yang turun dan keduanya berdoa. Malaikat pertama memohon kepada Allah, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang memberi nafkah', sementara malaikat satunya berdoa, 'Ya Allah, berikan kehancuran bagi orang yang pelit.' (HR. Bukhari & Muslim).
f. Dari Al-Harits Al-Asy'ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita tentang wasiat Nabi Yahya kepada bani israil. Salah satu isi wasiat itu, Nabi Yahya mengatakan,
ูˆุขู…ุฑูƒู… ุจุงู„ุตุฏู‚ุฉ ูˆู…ุซู„ ุฐู„ูƒ ูƒู…ุซู„ ุฑุฌู„ ุฃุณุฑู‡ ุงู„ุนุฏูˆ ูุฃูˆุซู‚ูˆุง ูŠุฏู‡ ุฅู„ู‰ ุนู†ู‚ู‡ ูˆู‚ุฑุจูˆู‡ ู„ูŠุถุฑุจูˆุง ุนู†ู‚ู‡ ูุฌุนู„ ูŠู‚ูˆู„ ู‡ู„ ู„ูƒู… ุฃู† ุฃูุฏูŠ ู†ูุณูŠ ู…ู†ูƒู… ูˆุฌุนู„ ูŠุนุทูŠ ุงู„ู‚ู„ูŠู„ ูˆุงู„ูƒุซูŠุฑ ุญุชู‰ ูุฏู‰ ู†ูุณู‡
Aku perintahkan kalian untuk banyak sedekah. Perumpamaan sedekah seperti orang orang yang ditawan oleh musuhnya dan tangannya diikat di lehernya. Ketika mereka hendak dipenggal kepalanya, dia bertanya: 'Bolehkah aku tebus diriku sehingga tidak kalian bunuh.' Kemudian dia memberikan yang dimiliki, sedikit atau banya, sampai dia berhasil menebus dirinya. (Shahih At-Targhib, 877).
Betapa luar biasanya pengaruh sedekah. Setiap dosa dan kesalahan yang dilakukan manusia merupakan ancaman baginya. Tumpukan dosa itu cepat atau lambat akan membinasakannya. Namun dia bisa selamat dari ancaman ini dengan memperbanyak sedekah, sampai dia bisa bebas dari neraka.
g. Sedekah sama sekali tida mengurangi harta
Itulah jaminan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda,
ู…َุง ู†َู‚َุตَุชْ ุตَุฏَู‚َุฉٌ ู…ِู†ْ ู…َุงู„ٍ
"Sedekah tidak akan mengurangi harta" (HR. Muslim)
h. Dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
ุฐูƒุฑ ู„ูŠ ุฃู† ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุชุจุงู‡ูŠ، ูุชู‚ูˆู„ ุงู„ุตุฏู‚ุฉ: ุฃู†ุง ุฃูุถู„ูƒู…
"Diceritakan kepadaku bahwa semua amal akan saling dibanggakan. Kemudia amal sedekah mengatakan: 'Saya yang paling utama diantara kalian'" (Shahih At-Targhib)
Hadis di atas hanya sebagian riwayat yang menunjukkan keajaiban Sedekah. Masih banyak riwayat lain yang menyebutkan keajaiban Sedekah. Mengingat demikian besar keutamaan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan umatnya untuk mengharapkan kenikmatan yang Allah berikan kepada dua jenis manusia, salah satunya adalah orang yang Allah beri harta, dan dia rajin bersedekah siang dan malam. (HR. Bukhari & Muslim).

Sedekah yang Paling Utama

Sedekah dengan banyak keutamaan di atas, tentu saja nilainya bertingkat-tingkat sesuai keadaan ketika bersedekah. Berikut beberapa keadaan yang menyebabkan sedekah kita nilainya lebih utama dari pada sedekah normal,
Pertama, sedekah secara rahasia
Merahasiakan sedekah akan lebih mendekati ikhlas. Karena itulah nilainya lebih besar dibanding sedekah yang diketahui orang lain. Allah berfirman,
ุฅِู† ุชُุจْุฏُูˆุงْ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุงุชِ ูَู†ِุนِู…َّุง ู‡ِู‰َ ูˆَุฅِู† ุชُุฎْูُูˆู‡َุง ูˆَุชุคْุชُูˆู‡َุง ุงู„ูُู‚َุฑَุงุกِ ูَู‡ُูˆَ ุฎَูŠุฑٌ ู„َّูƒُู…ْ
"Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.." (QS. Al-Baqarah: 271).
Kedua, sedekah ketika masih sehat, kuat, dan punya harapan hidup lebih lama
Dari Abu hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 'Sedekah seperti apakah yang paling besar pahalanya?' beliau menjawab:
ุฃَู†ْ ุชَุตَุฏَّู‚َ ูˆَุฃَู†ْุชَ ุตَุญِูŠุญٌ ุดَุญِูŠุญٌ ุชَุฎْุดَู‰ ุงู„ูَู‚ْุฑَ، ูˆَุชَุฃْู…ُู„ُ ุงู„ุบِู†َู‰، ูˆَู„ุงَ ุชُู…ْู‡ِู„ُ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุจَู„َุบَุชِ ุงู„ุญُู„ْู‚ُูˆู…َ، ู‚ُู„ْุชَ ู„ِูُู„ุงَู†ٍ ูƒَุฐَุง، ูˆَู„ِูُู„ุงَู†ٍ ูƒَุฐَุง ูˆَู‚َุฏْ ูƒَุงู†َ ู„ِูُู„ุงَู†ٍ
"Engkau bersedekah ketika kamu masih sehat, rakus dengan dunia, takut miskim, dan bercita-cita jadi orang kaya. Jangan tunda sedekah sampai ruh berada di tenggorokan, kemudian kamu mengatakan: 'Untuk si A sekian, si B sekian, padahal sudah menjadi milik orang lain (melalui warisan).' (HR. Bukhari & Muslim)
Pada saat sehat, muda, umumnya manusia masih sangat butuh harta, dan cinta harta dan kekayaan. Bersedekah pada kondisi tersebut akan membutuhkan perjuangan yang lebih besar untuk melawan nafsunya, dibandingkan sedekah yang dilakukan oleh orang yang tidak lagi punya harapan banyak dengan kehidupan dunia karena sudah tua.
Ketiga, sedekah yang diberikan setelah menunaikan kewajiban nafkah keluarga
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุฎَูŠْุฑُ ุงู„ุตَّุฏَู‚َุฉِ ู…َุง ูƒَุงู†َ ุนَู†ْ ุธَู‡ْุฑِ ุบِู†ًู‰، ูˆَุงุจْุฏَุฃْ ุจِู…َู†ْ ุชَุนُูˆู„ُ
"Sebaik-baik sedekah adalah harta sisa selain jatah nafkah keluarga. Mulailah dari orang yang wajib kamu nafkahi." (HR. Bukhari & Muslim)
Sedekah ini bernilai lebih baik, karena dilakukan tanpa menelantarkan kewajibannya. Mengingat kaidah baku dalam syariat, amal wajib lebih didahulukan dari pada amal sunah.
Keempat, sedekah pada saat krisis
Orang yang memiliki sedikit, namun dia berani bersedekah, menunjukkan keseriusan dia dalam beramal, disamping sikap istiqamah yang dia lakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Satu dirham bisa mengalahkan seratus ribu dirham." Para sahabat bertanya, 'Bagaimana bia demikian'
ูƒุงู† ู„ุฑุฌู„ ุฏุฑู‡ู…ุงู† ุชุตุฏู‚ ุจุฃุญุฏู‡ู…ุง، ูˆุงู†ุทู„ู‚ ุฑุฌู„ ุฅู„ู‰ ุนุฑุถ ู…ุงู„ู‡، ูุฃุฎุฐ ู…ู†ู‡ ู…ุงุฆุฉ ุฃู„ู ุฏุฑู‡ู… ูุชุตุฏู‚ ุจู‡ุง
"Ada orang yang memiliki 2 dirham, kemudian dia sedekahkan satu dirham. Sementara itu ada orang yang memiliki banyak harta, kemudian dia mengambil seratus ribu dirham untuk sedekah." (HR. Nasai dan dinilai hasan oleh Al-Albani).
Kelima, nafkah untuk keluarga
Barangkali banyak kepala keluarga yang belum terbayang, ternyata nafkah yang kita berikan kepada kelurga sejatinya bisa bernilai pahala. Dengan syarat, dilakukan dalam rangka mengharap pahala Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุงู„ุฑุฌู„ ุฅุฐุง ุฃู†ูู‚ ุงู„ู†ูู‚ุฉ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ู‡ ูŠุญุชุณุจู‡ุง ูƒุงู†ุช ู„ู‡ ุตุฏู‚ุฉ
"Seseorang yang memberikan nafkah kepada keluarganya dengan mengharap pahala dr Allah maka itu bernilai sedekah." (HR. Bukhari & Muslim)
Bahkan nafkah keluarga yang diniatkan utk beribadah kepada Allah, nilainya lebih besar dibandingkan yang disumbangkan untuk orang miskin. Karena nafkah keluarga hukumnya wajib. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุฃุฑุจุนุฉ ุฏู†ุงู†ูŠุฑ: ุฏูŠู†ุงุฑ ุฃุนุทูŠุชู‡ ู…ุณูƒูŠู†ุงً، ูˆุฏูŠู†ุงุฑ ุฃุนุทูŠุชู‡ ููŠ ุฑู‚ุจุฉٍ، ูˆุฏูŠู†ุงุฑ ุฃู†ูู‚ุชู‡ ููŠ ุณุจูŠู„ ุงู„ู„ู‡، ูˆุฏูŠู†ุงุฑ ุฃู†ูู‚ุชู‡ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ูƒ، ุฃูุถู„ู‡ุง ุงู„ุฏูŠู†ุงุฑ ุงู„ุฐูŠ ุฃู†ูู‚ุชู‡ ุนู„ู‰ ุฃู‡ู„ูƒ
Ada 4 dinar: satu dinar kau berikan ke orang miskin, satu dinar kau sumbangkan untuk pembebasan budak, satu dinar untuk jihad fi sabililllah, dan satu dinar yang kau jadikan nafkah untuk keluarga, yang paling utama adalah satu dinar yang kau nafkahkan untuk keluarga. (HR. Muslim)
Keenam, sedekah kepada kerabat
Sedekah ini lebih utama karena nilainya ganda: sedekah sekaligus mempererat silatur rahim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ุงู„ุตุฏู‚ุฉ ุนู„ู‰ ุงู„ู…ุณูƒูŠู† ุตุฏู‚ุฉ، ูˆู‡ูŠ ุนู„ู‰ ุฐูŠ ุงู„ุฑุญู… ุงุซู†ุชุงู† ุตุฏู‚ุฉ ูˆุตู„ุฉ
Sedekah kepada orang miskin nilainya hanya sedekah. Sedekah kepada kerabat nilainya dua: sedekah dan menyambung silaturrahim. (HR. Ahmad, Nasai, Turmudzi dan Ibnu Majah).
Semoga bermanfaat
Allahu a'lam

Pesan Terakhir Rasulullah SAW

Written By Unknown on Friday, July 26, 2013 | 7/26/2013

Wasiat Rasulullah SAW
Ketika ajal Rasulullah makin dekat, Beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah dan Beliau bersabda:
“Selamat datang, semoga Allah SWT mengasihi kalian, saya berwasiat kepada kalian agar senantiasa bertakwa kepada Allah SWT dan mentaati segala perintah-Nya.
Sesungguhnya hari perpisahan saya dengan kalian sudah dekat, itu berarti semakin dekat pula kembalinya seorang hamba kepada Allah SWT dan menempatkannya di surga-Nya.”
“Kalau sampai ajalku, hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah menuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya.
Setelah itu kafanilah aku dengan pakaianku sendiri.
Jika kalian menghendaki, kafanilah aku dengan kain Yaman yang putih.
Jika engkau memandikan aku, hendaklah engkau letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini.
Setelah itu kalian keluarlah sebentar meninggalkan aku.”
“Pertama yang akan menshalati aku ialah Allah SWT,  kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, Malaikat Mikail  dan yang terakhir malaikat Izrail beserta dengan semua para pembantunya.
Setelah itu, barulah kalian masuk semua mensalatiku.”
Setelah para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu, mereka pun menangis dengan suara yang keras dan berkata :
“Ya, Rasulullah SAW Anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, selama ini Anda memberi kekuatan pada kami dan Anda pula pemimpin yang mengurus semua perkara kami.
Apabila Anda sudah tiada nanti, kepada siapakah kami bertanya setiap ada persoalan muncul?.”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda :
“Dengarlah para sahabatku, aku tinggalkan kepada kalian jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan dua penasehat.
Yang satu pandai bicara dan yang satu lagi diam saja.
Yang pandai bicara itu adalah Alquran,  dan yang diam itu ialah maut.
Apabila ada persoalan yang sulit dan berbelit di antara kalian, hendaklah kalian kembali kepada Alquran dan Hadistku dan sekiranya hati engkau keras, lembutkan dia dengan mengambil pelajaran dari mati.”
Setelah Rasulullah SAW berkata demikian,  Beliau kemudian mulai merasakan sakit.
Dalam bulan Safar Rasulullah sakit selama 18 hari  dan sering diziarahi para sahabat.
 
Saat Saat Terakhir Sakitnya Rasulullah SAW

Dalam sebuah kitab diterangkan,  bahwa Rasulullah diutus pada Hari Senin dan wafat pada Hari Senin.
Pada Hari Senin penyakit Beliau bertambah berat.
Setelah Bilal selesai adzan subuh, Bilal pun pergi ke rumah Rasulullah SAW.  Sampai di sana, Bilal memberi salam :
“Assalamu’alaika ya Rasulullah.”
Lalu dijawab Fatimah :
“Rasulullah SAW masih sibuk dengan urusan Beliau.”
Setelah Bilal mendengar penjelasan dari Fatimah,
Bilal pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah itu.
Ketika waktu subuh hampir habis, Bilal pergi sekali lagi ke rumah SAW
dan memberi salam seperti tadi.  Kali ini salam Bilal telah didengar Rasulullah SAW.
Baginda berkata :
“Masuklah wahai Bilal,  sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh karena itu,  kau suruhlah Abu Bakar mengimami salat subuh berjamaah dengan mereka yang hadir.”
Setelah mendengar kata-kata Rasulullah, Bilal pun berjalan menuju masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala, seraya berkata :
“Aduh musibah.”
Setelah Bilal sampai di masjid, Bilal pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah SAW katakan kepadanya.
Abu Bakar tidak dapat menahan dirinya saat ia melihat mimbar kosong.
Lantas dengan suara keras Abu Bakar menangis hingga ia jatuh pingsan.
Melihat peristiwa itu maka riuhlah dalam masjid, sehingga Rasulullah bertanya kepada Fatimah :
“Wahai Fatimah apa yang telah terjadi?”
Fatimah pun berkata :
“Keriuhan kaum muslimin, sebab Anda tidak pergi ke masjid.”
Kemudian Rasulullah SAW memanggil Ali dan Fadhl bin Abas,  lalu beliau bersandar pada kedua bahu mereka  dan terus pergi ke masjid. Setelah sampai di masjid,  Rasulullah pun salat subuh bersama dengan para jamaah.
Setelah selesai salat subuh, Beliau berkata :
“Wahai kaum muslimin,
kalian senantiasa dalam pertolongan dan penjagaan Allah. Oleh karena itu, hendaklah kalian bertakwa kepada Allah SWT  dan mengerjakan segala perintah-Nya.
Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kalian.
Hari ini adalah hari pertamaku di akhirat dan hari terakhirku di dunia.”
Setelah berkata demikian, Rasulullah SAW pun pulang ke rumah.

Nasihat kepada Sufi Kaya dan Sufi Miskin

Written By Unknown on Wednesday, March 06, 2013 | 3/06/2013

‘Ala’ bin Ziyad Al-Harithi dikenal sebagai salah seorang dari penduduk Bahsrah yang kaya raya. Ciri-cirinya mudah dikenali: rumah besar, berpakaian elok, dan berkendaraan mewah. Saudaranya ‘Ashim bin Ziyad Al-Harithi adalah sebaliknya, bahkan dia sering menyendiri semata-mata karena ingin mendekatkan diri pada Allah Swt.

Suatu hari, khalifah zamannya, Imam Ali bin Abi Thalib berkunjung ke Bashrah. ‘Ala’ yang juga terkenal sebagai salah seorang tokoh Bashrah meminta agar khalifah menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya. Pikirnya, seorang pemimpin sebesar khalifah yang menguasai hampir separuh dunia saat itu sangat layak untuk dijamu di rumahnya.

Setibanya di rumah ‘Ala’, sang khalifah memang merasa kagum sebab rumahnya sendiri di Madinah dan di Kufah tidak lebih dari sekadar rumah yang berkamar dua, persis seperti rumah rakyatnya yang paling miskin. Sang khalifah berkata kepada ‘Ala’, “Wahai ‘Ala’, apa yang dapat menguntungkanmu dengan rumah sebesar ini, padahal kau lebih butuh rumah yang lebih besar di akhirat kelak.”

‘Ala’ hanya diam. Dia tak mampu menjawab pertanyaan khalifah. Semula dia menduga bahwa dialah yang paling layak menerima dan menjamu khalifah di istananya yang megah dan mewah. Namun, ternyata sang khalifah bukan orang dunia. Baginya kekuasaan tidak lebih dari sekadar sebuah kendaraan yang dengannya dia dapat berbakti pada makhluk-makhluk Allah. Sang khalifah benar-benar tidak dikuasai dunia, meskipun menguasai dunia.

Perubahan wajah ‘Ala’ dapat ditangkap oleh sang khalifah. Dia tahu bahwa ‘Ala’ memperoleh kekayaannya bukan karena manipulasi harta negara. ‘Ala’ adalah salah seorang dari saudagar Bashrah yang sukses. Dengan kekayaannya sendiri, kemudian dia membangun rumahnya yang megah itu di sudut strategis kota Bashrah.

Melihat wajah ‘Ala’ berubah, khalifah Ali kemudian berkata, “Wahai ‘Ala’, engkau bisa jadikan rumah yang besar ini sebagai kendaraan yang akan mengantarmu pada rumah yang lebih besar di akhirat kelak.”

“Bagaimana caranya wahai Amirul Mu’minin?” tanya ‘Ala’ antusias.

“Kau buka rumah ini untuk para tamumu yang mempunyai hajat; ikat tali silaturahmi antara sesama kaum muslim; bela dan tampakkan hak-hak muslimin di dalam rumah ini; jadikan rumah ini sebagai tempat pemenuhan hajat saudara-saudaramu kaum muslim; dan jangan dibatasi hanya untuk kepentingan dan keserakahan dirimu semata-mata.”

“Wahai Amirul Mu’minin, aku punya seorang saudara. Namanya ‘Ashim. Dia telah mengubah total cara hidupnya. Dia sekarang hanya menyendiri di tempat-tempat sunyi, berpakaian kumuh, meninggalkan pekerjaannya bahkan menelantarkan kehidupan keluarganya. Katanya, itu dilakukan semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Apakah ini benar?”

“Panggil ‘Ashim menghadapku,” titah Khalifah.

Setelah ‘Ashim menghadap, Ali berkata kepadanya dengan kata-kata yang agak keras, “Wahai ‘Ashim, seorang yang telah memusuhi dirinya sendiri! Sungguh setan telah memperdayakan akalmu. Mengapa kau telantarkan anak istrimu dengan alasan ingin mendekatkan diri pada Allah. Apakah kau menduga bahwa Allah yang telah menciptakan alam semesta dan semua nikmat-nikmat-Nya ini tidak akan rela apabila kau menggunakannya tepat pada tempatnya? Demi Allah, tidak begitu caranya, wahai ‘Ashim.”

“Wahai Amirul Mu’minin, kulakukan semua ini semata-mata karena ingin meniru kezuhudan dan kesederhanaanmu. Engkau hidup susah, aku pun hidup susah; engkau berpakaian kasar, aku pun berpakaian kasar; engkau makan sekeping roti, aku pun makan cukup dengan sekeping roti. Engkau adalah anutanku, wahai Amirul Mu’minin. Aku ingin meniti jalan hidup ini persis seperti yang kautiti. Bukankah ini baik?”

“Engkau keliru, wahai ‘Ashim,” jawab Ali. “Aku berbeda denganmu. Aku memegang kekuasaan dan khalifah kaum muslim, tetapi engkau tidak. Di bahuku erpikul sebuah amanat mahabesar, sementara engkau tidak. Aku memakai jubah kepemimpinan, sementara engkau adalah rakyat yang kupimpin. Tanggung jawab seorang pemimpin di sisi Allah adalah teramat besar. Dia mewajibkan setiap pemimpin untuk berlaku adil kepada setiap rakyatnya. Seorang pemimpin sudah selayaknya hidup seperti rakyatnya yang paling sederhana agar penderitaan mereka terasa terobati. Oleh karena itu, hai ‘Ashim, di bahuku ada kewajiban yang harus kutunaikan, dan di bahumu ada kewajiban yang harus kautunaikan juga.”
***
Mari mengambil pelajaran dari kisah di atas. Mari kita hidup zuhud sekaligus amanah terhadap tanggung jawab masing-masing di dunia.

Enam Sikap Merusak Pribadi

Written By Unknown on Tuesday, March 05, 2013 | 3/05/2013

Khutbah Jum'at Drs. St. Mukhlis Denros
Di Masjid Nurul Yakin
Jorong Cubadak Nagari Pianggu
Kecamatan IX Koto Sungai Lasi
Kabupaten Solok Sumatera Barat
Tanggal 29 April 2011

ุงَู„ْุญَู…ْุฏُ ู„ِู„َّู‡ِ ุญَู…ْุฏَ ุงู„ุดَّุงูƒِุฑِูŠْู†َ ูˆุงَู„ุตَّู„ุงَุฉُ ูˆَุงู„ุณَّู„ุงَู…ُ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุงَู„ْู…َุจْุนُูˆْุซِ ุฑَุญْู…َุฉً ู„ِู„ْุนَุงู„َู…ِูŠْู†َ ูˆَุนَู„َู‰ ุขู„ِู‡ِ ูˆَุตَุญْุจِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ุงู‡ْุชَุฏَู‰ ุจِู‡ُุฏَุงู‡ُ ูˆَุนَู…ِู„َ ุจِุณُู†َّุชِู‡ِ ุฅِู„َู‰ ูŠَูˆْู…ِ ุงู„ุฏِّูŠْู†ِ. ุฃًู…َّุง ุจَุนْุฏُ؛ ูَุฅِู†َّ ุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْุญَุฏِูŠุซِ ูƒِุชَุงุจُ ุงู„ู„ู‡َ، ูˆَุฎَูŠْุฑَ ุงู„ْู‡َุฏْูŠِ ู‡َุฏْูŠُ ู…ُุญَู…َّุฏٍ ุตَู„َّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนَู„َูŠْู‡ِ ูˆَุณَู„َّู…َ ูˆَุดَّุฑَ ุงู„ุฃُู…ُูˆุฑِ ู…ُุญْุฏَุซَุงุชُู‡َุง ูˆَูƒُู„َّ ู…ُุญْุฏَุซَุฉٍ ุจِุฏْุนَุฉٌ ูˆَูƒُู„َّ ุจِุฏْุนَุฉٍ ุถَู„ุงَู„َุฉٌ ูˆَูƒُู„َّ ุถَู„ุงَู„َุฉٍ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุฑِ. ู…َุนَุงุดِุฑَ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ ุฑَุญِู…َูƒُู…ُ ุงู„ู„ู‡ُ.
ู‚َุงู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุชَุนَุงู„َู‰ ูِูŠ ุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ِ ุงู„ْูƒَุฑِูŠْู…ِ،

kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.

Hadirin, sidang jum’at yang dirahmati Allah
Pertama sekali kita sanjungkan puja dan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya kepada kita semua sehingga dalam menjalankan kehidupan ini selalu dalam bimbingan-Nya, Amin.

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wassalam yang telah mengorbankan segala potensi hidupnya untuk menyelamatkan ummat manusia di dunia ini kehidupan yang penuh arti melalui iman dan pengabdian hanya kepada Allah semata.

Kemudian marilah kita tingkatkan kualitas iman dan taqwa kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa yang diujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui amaliah ibadah yang kita lakukan sebagai bekal memasuki kehidupan kekal abadi yaitu kampung akherat. Taqwa yang sungguh-sungguh itulah kelak akan mendapat tempat yang dijanjikan Allah yaitu syurga jannatunnaim.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
Manusia memiliki kepribadian positif dan negatif yang tercermin pada tingkah laku dalam setiap sepak terjang kehidupan sehari-hari.

Sikap positif nampak dalam tindakan patuh, mencari kebenaran, introsfeksi diri, bekerja, mengadakan lapangan kehidupan.

Sedangkan sikap negatif terlihat pada pembangkangan, cendrung kepada perbuatan maksiat, malas bekerja serta membuat kerusakan baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadits yang datang dari Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Addailami;

”Ada enam hal yang menyebabkan amal kebajikan menjadi sia-sia [tidak berpahala] yaitu sibuk mengurus aib orang lain, keras hati, terlalu cinta kepada dunia, kurang rasa malu, panjang angan-angan dan zalim yang terus menerus di dalam kezalimannya.”

1. Sibuk meneliti aib orang lain
Dia lebih suka mencari dan menyebarkan keburukan yang terdapat pada orang lain lalu membesar-besarkannya, sementara aib sendiri tidak pernah diperiksa sesuai dengan pepatah lama, ”Kuman di seberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam, lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil membentak,dan terjadilah dialoq
-Khalifah : Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan menutupi kesalahan ini ?
- Lelaki : Tuan sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.
- Khalifah : Kesalahan apa yang saya perbuat ?
- Lelaki : Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain, padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan rumah.

2. Keras hati
Artinya tidak mau menerima pengajaran yang baik, nasehat yang mengandung maslahat ditolaknya. Tidak suka segala kesalahannya dikritik apalagi dihukumi, dialah yang paling benar, disamping itu hatinya tidak tersentuh oleh penderitaan dan kesedihan orang lain.
Dimasa Rasulullah Saw, terdapat suatu kejadian yang membuat semua sahabat bersedih karena matinya salah seorang anggota keluarga dari mereka, bahkan Nabi Saw pun meneteskan air matanya, sahabat-sahabat disekitarnyapun berlinang air matanya, tapi seorang sahabat nampak biasa-biasa saja, sedikitpun dia tidak tersentuh melihat kejadian itu. Lalu dia bertanya kepada Nabi Saw, maka Rasulullah menjawab, ”Itu tandanya hati yang keras”.

Orang yang keras hati cendrung egois, sombong, takabur dan tidak mau menerima kebenaran, karena hatinya telah beku dan tidak terbuka untuk menerima pengajaran yang benar.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
3. Terlalu cinta kepada dunia
Kehidupan dunia hanya sementara sebagai musafir yang berada dalam perjalanan lalu istirahat pada sebuah tempat. Namun tidak sedikit manusia yang beranggapan tempat istirahat sejenak itulah tujuan sehingga lupa akan tujuan semula.

Diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa nanti pada suatu masa ummat Islam aan dikeroyok oleh ummat lain sebagaimana mereka menghadapi makanan di atas meja, padahal jumlahnya mayoritas tapi kekuatannya ibarat buih di atas lautan, mudah hancur. Saat itu ummat dihinggapi penyakit yang bernama ”Wahn” yaitu suatu bakteri yang meracuni ummat ini sehingga mereka terlalu cinta kepada dunia dan takut akan kematian.

4. Sedikit rasa malu
Orang yang memiliki sifat ini tidak malu-malu berbuat apapun menurut kemauannya, dosa dan maksiat suatu perbuatan sehari-hari, sedangkan benar dan salah bukan suatu ukuran.
Bila malu habis, maka akan berbuat seenaknya dan beranggapan diri lebih suci dari orang lain. Menurut Abu Hasan Al Mawardi, malu ada tiga macamnya yaitu;
1. malu kepada Allah,
2. malu kepada manusia
3. malu kepada diri sendiri.

5. Panjang angan-angan
Sifat ini menunjukkan kekerdilan manusia, kemauannya lebih tinggi, tidak sesuai dengan kemampuan, dia suka berandai-andai. Ungkapannhya berbunyi, ”Seandainya, andai kata, apabila”. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk berangan-angan dan berkhayal yang macam-macam, tapi sama sekali ia tidak berbuat sesuatu. Dia beranggapan bahwa mengkhayal itu benar, khayalan itu enak dan gratis. Orang yang seperti ini ibarat, ”Pungguk merindukan bulan”, atau ”Katak ingin jadi kerbau”.

6. Perbuatan zhalim yang terus menerus
Watak manusia karena kuat dan kuasa dia melakukan eksploitasi bangsa lain, memeras bawahan dan menindas yang lemah, bila ini dilakukan tidak henti-hentinya, maka akibatnya orangpun terus menerus menanggung dari kezhalimannya. Ahli Hikmat membagi kezhaliman menjadi tiga yaitu ; zhalim kepada Allah dengan Al Fathir ayat 32
,hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.

Berangkat dari ayat diatas tergambar bahwa watak manusia itu ketika melakukan kezhaliman ada tiga yaitu;
1. Tetap menganiaya diri sendiri dengan segala dosa yang dilakukannya.
2. Ada yang pertengahan, antara taubat dan maksiat
3. Ada yang cepat berbuat baik dengan kesadaran.

Hadirin sidang jum’at yang dirahmati Allah
Enam sifat inilah yang dapat menghancurkan nilai-nilai ibadah, dia ibarat air di daun keladi, amal yang dilakukan berpahala banyak tapi tertumpah tanpa meninggalkan bekas, bila enam sifat tercela ini terdapat dalam pribadi seseorang, waspadalah atas peringatan Rasulullah Saw tadi

Radikalisme dan Embel-embelnyaf ss

Written By Unknown on Saturday, December 15, 2012 | 12/15/2012

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
RADIKALISME adalah paham kebebasan yang kebablasan, paham/aliran radikalisme yang memunculkan aksi kekerasan (radikal). (Kamus Inggris-Indonesia-Arab, oleh Atabik Ali, h. 1053).

Radikalisme yang mengatasnamakan agama, boleh jadi berpangkal dari pemahaman teologis yang radikal, karena memahami Alquran secara parsial, antara lain Surah Al-Baqarah ayat 120 yang artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”

Surah Al-Maidah ayat 47 yang artinya: “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.”

Mereka lupa ayat yang mengajak umat Islam yang bersikap wajar dan proporsional, Surah al-Baqarah ayat 256 yang artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam),” dan Surah Al-Kafirun ayat 6 yang artinya : “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”

Menurut Syekh Yusuf Al-Qardhawi ada beberapa faktor munculnya radikal di kalangan umat Islam, yaitu:

1) hilangnya kepercayaan para pemuda kepada para ulama yang mereka anggap dekat dengan penguasa dan mereka dituduh tidak berani menegur penguasa yang zalim dan batil;
2) semaraknya kemungkaran;
3) merebaknya paham sekularisme, komunisme dan salibisme;
4) meluasnya dekadensi moral akibat tayangan media massa yang tak terkendali, berlanjut dengan pornografi dan pornoaksi;
5) gencarnya makar musuh-musuh terhadap umat Islam, sedangkan para penguasa tidak memberikan pembelaan malah sepertinya merentangkan peluang.

Menghadapi radikalisme agama, muncul paham pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama; inilah embel-embel radikalisme. Menurut penganutnya pemicu radikalisme agama adalah karena para pemeluk agama beranggapan agama yang dipeluknya saja yang paling benar, karenanya konflik dan kekerasan dengan mengatasnamakan agama, baru bisa sirna jika masing-masing agama tidak lagi menganggap agamanya paling benar (truth claim).

Pandangan ini dipropagandakan di dunia Islam melalui berbagai cara; dan mendapat angin segar dengan isu HAM dan asas demokrasi, dimana warga negara bebas pindah agama (murtad), bahkan mendirikan agama baru, karena itu adalah hak asasi masing-masing individu. setiap orang wajib menjunjung tinggi prinsip kebebasan berpikir dan beragama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan, berpendapat pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah, pluralisme agama juga mengajarkan, bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga.

Adapun liberalisme agama adalah memahami nash-nash agama (Alquran & Sunah) dengan menggunakan akal pikiran yang bebas; dan hanya menerima doktrin-doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

Sedangkan sekularisme agama adalah memisahkan urusan dunia dari agama; agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sedangkan hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasarkan kesepakatan sosial.

Karenanya MUI menyatakan bahwa pluralisme, sukularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud di atas adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam; umat Islam haram mengikuti paham pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama; dan dalam masalah akidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencampuradukkan akidah dan ibadah umat Islam dengan akidah dan ibadah pemeluk agama lain.

Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama), dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan akidah dan ibadah, umat Islam bersikap insklusif, dalam arti tetap melakukan pergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan. Lihat (Fatwa MUI No.7/Munas VII/MUI/11/2005). (*)

Sudahkah Ilmu Anda Di”sarjana”kan?

Written By Unknown on Monday, December 10, 2012 | 12/10/2012

Gambar: gohawks.newpaltz.edu
Di Indonesia, menjadi seorang sarjana merupakan kebanggaan tersendiri. Tentu saja, karena dunia pendidikan kita yang masih tergolong mahal. Sehingga, nilai jual ijazah pun menjadi ikut mahal. Betapa tidak, saat akan mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin (baik skala kecil, daerah maupun nasional), maka orang-orang akan berlomba-lomba untuk mencantumkan gelar kesarjanaan itu. Tak masalah jika gelar itu berderet panjang dan menyempitkan baliho di jalanan. Lebih ironis lagi dengan adanya pemalsuan ijazah guna mendapatkan stempel orang terpelajar. Tak tanggung-tanggung, pemalsuan ini pun sampai menggunakan brand universitas di luar negeri.
Ya, menjadi sarjana dalam masyarakat kita memang memiliki kelas eksklusif dan lebih tinggi dibandingkan dengan di luar negeri. Orang yang bergelar sarjana biasanya akan lebih dihormati dan dihargai. Orang awam akan merundukkan punggungnya hanya untuk mendapatkan genggaman tangan sang sarjana. Namun permasalahannya, apakah sarjana ini benar-benar telah di“sarjana”kan? Benarkah mereka laik disebut sebagai “sarjana” hanya dengan memiliki selembar ijazah, dengan tanpa disertai akhak?
Pada dasarnya, sarjana memang selalu diidentikkan dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan. Seorang sarjana kerap disandingkan dengan tumpukan buku dan nilai kritis yang tinggi. Sarjana seolah menjadi wakil Tuhan di bumi ini untuk mengayomi dan membantu kaum proletar dan sebangsanya. Namun, dengan bergulirnya waktu, makna sarjana ini pun mengalami penyempitan makna. Sarjana yang dielu-elukan keilmuannya, diagung-agungkan wawasan dan akhlaknya, kini dengan adanya penyempitan makna tersebut menjadikan meaning sarjana itu redup, bahkan hilang.

Sebagai contoh, menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Kependudukan Nasional dan Keluarga Berencana (BKKBN), penelitian menunjukkan bahwa mahasiswi yang mengalami kehamilan pra nikah setiap tahun jumlahnya semakin bertambah, terlebih di kota-kota besar. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa bobroknya moral generasi penerus bangsa ini.
Padahal, kedudukan orang berilmu ini banyak disebut al-Quran. Tentu saja dengan disertai posisi tingginya nilai ilmu, baik di dunia maupun kelak di akhirat. Namun, ironis jika pada kenyataannya ilmu tak dapat menuntut si pencari ilmu pada suatu keimanan (baca: akhlak). Sebab, apalah guna ilmu jika tanpa disertai akhlak. Baik akhlak terhadap sesama manusia  (hablum minannas), akhlak dengan alam (hablum minal ‘alam) maupun akhlak manusia dengan Tuhan (hablum minallah). Sebab, mau tak mau ilmu ini telah Tuhan sandingkan sejajar dengan keimanan. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Qs. Al-Mujadilah: 11).
Begitu pun sebaliknya. Jika iman tanpa ilmu, maka terjerumuslah ia. Sebagaimana kisah ahli ibadah beribu tahun lalu, Ki Barseso. Konon, selama hidupnya ia tidak pernah melakukan dosa. Segala waktunya dihabiskan untuk beribadah. Namun, dikarenakan dangkalnya ilmu yang ia miliki, akhirnya ia pun harus mati dalam kondisi kafir. Naudzubillah.
Ini menunjukkan bahwa iman, ilmu dan amal merupkan tiga rangkaian ibadah yang tidak bisa dilepaskan. Masing-masing memiliki peran yang saling terkait ibarat bangunan sebuah rumah. Semuanya saling mendukung dan tidak bisa berdiri sendiri. Iman tanpa ilmu akan tersesat, karena ilmu adalah penerang bagi setiap manusia. Berilmu tanpa beriman pun akan sia-sia, karena ilmu dapat menjadi penerang dan dapat juga menjadi penyesat. Ilmu bagaikan pisau. Apabila digunakan untuk hal yang bermanfaat, maka pisau itu dapat berguna, begitu pula sebaliknya, jika pisau digunakan untuk membunuh maka hal buruk itu yang akan menimpanya. Iman dan ilmu tanpa amal juga percuma. Apalah artinya jika orang pandai dan beriman, namun tidak mengamalkannya. Tentunya bagaikan pohon tanpa buah. Maka, sudahkah keilmuan yang Anda miliki itu di“sarjana”kan?

Benarkah Syekh Siti Jenar Ulama SESAT?

Written By Unknown on Thursday, December 06, 2012 | 12/06/2012

SIAPAKAH SYEH SITI JENAR
Oleh: KH.Shohibul Faroji Al-Robbani
Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Sayyid Hasan ’Ali Al-Husaini, dilahirkan di Persia, Iran. Kemudian setelah dewasa mendapat gelar Syaikh Abdul Jalil. Dan ketika datang untuk berdakwah ke Caruban, sebelah tenggara Cirebon. Dia mendapat gelar Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang atau Syaikh Lemah Brit.
Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.
Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.
Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.
Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.
Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.
Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.
Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:
1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya
2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.
Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.
Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.
Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.
KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….
2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.
5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa diterima akal sehat.
Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]
Wahai kaum muslimin...melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati....jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

Yang Berempati Karena Kemanusiaan

Written By Unknown on Tuesday, December 04, 2012 | 12/04/2012

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...  (Mudah-mudahan kesejahteraan dilimpahkan kepada kamu sekalian serta rahmat Allaah, serta berkatNya)... ^_^

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. yang mengajar (manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al Alaq: 1-5)

Bismillahi rahman nirrahim... (dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan sesuai apa yang diniatkan, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang akan didapatkan atau wanita yang akan dinikahi maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan.” (HR. Bukhari Muslim)

***

Kisah Salahuddin adalah contoh bagaimana seorang muslim dengan segala ketinggian aqidah dan loyalitasnyayang membaja kepada kebenaran, tetap saja bisa bersikap lembut kepada orang lain, dengan dasar kemanusiaan.

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah seorang panglima dan pahlawan muslim yang tidak asing lagi. Ia juga pendiri dinasti Ayubiah di Mesirdan terkenal sebagai ahli ilmu Islam. Lika-liku hidup Salahuddin penuh dengan perjuangan dan peperangan.

Peperangan yang dilaluinya begitu beragam. Adakalanya hanya memadamkan pemberontakan dalam negeri. Tetapi yang terbesar adalah perangnya melawan Pasukan Salib, yang berusaha menguasai dunia Islam dan merampas hak-hak penduduknya.

Perang antara tentara Islam dan tentara Salib yang sewaktu-waktu diselingi dengan perdamaian yang sering dilangar tentara Salib, mengisi lembaran perjuangan Salahuddin. Setelah Baitulmaqdis (Yerusalem) dikuasai Salahuddin, Paus Gregory langsung mengumandangkan Perang Salib. Seruang itu pun disambut raja dan masyarakat Eroyra. Di kemudian hari, perang itu diteruskan oleh Clement III, pengganti Gregory. Tak ketinggalan, Raja Philip II (raja Perancis) dan Raja Richard I (The Lion Hearted, raja Inggris) langsung memimpin pasukan.

Di sela pertempuran dengan Salahuddin, Richard jatuh sakit. Pertempuran untuk sementara dihentikan. Sewaktu ia terbaring lemah, para pimpinan tentara dibawahnya cekcok. Mereka memperebutkan kedudukan Richard, semuanya “bersiap-siap” menggantikan kedudukannya sebagai panglima perang, kalau ia akhirnya meninggal. Richard memang tak kunjung sembuh. Dan, sungguh di luar dugaannya, tiba-tiba datang dokter muslim utusan Salahuddin, musuhnya dalam pertempuran itu. Dokter itu disuruh Salahuddin mengobati penyakit Richard. Richard akhirnya menerima pengobatan itu dan sembuh.

Betapa mengherankan dan menimbulkan simpati mendalam sikap Salahuddin di mata Richard. Di saat anak buahnya bertengkar memperebutkan posisinya, musuhnya malah mengupayakan kesembuhannya.

Pada dasarnya, Salahudin memang memiliki toleransi yang tinggi terhadap agama lain. Ketika menguasai Iskandariah, ia mengunjungi orang-orang Kristen. Dan setelah perdamaian tercapai dengan Pasukan Salib, ia mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis.

Dari Indonesia, sikap empati dan kebersamaan atas dasar kemanusiaan juga dicontohkan pejuang besar, H. Agus Salim. Dalam suatu rapat Syarikat Islam yang mulai panas akibat pertentangan dengan SI merah, Muso, yang masih menjadi anggota SI, berbicara di atas podium. Saat itu, hadir H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim.

Di atas podium Muso menyindir, orang yang berjenggot itu seperti apa saudara-saudara?
Para pendukungnya menjawab, “Kambing!”
Muso bertanya lagi, “Orang yang berkumis itu seperti apa saudara-saudara?”
Dijawab oleh pendukungnya, “Kucing!”
Muso menyindir Agus Salim yang berjenggot dan Tjokroaminoto yang berkumis.
Setelah Muso turun dari podium, Agus Salim naik ke atas mimbar. Langsung ia berkata, “Tadi kurang lengkap saudara-saudara. Yang tidak berkumis dan tidak berjenggot itu seperti apa? “Anjing,” ujarnya.
Demikianlah kegusaran lawan-lawan politik pada sejumlah tokoh Islam, termasuk Agus Salim.
Namun ada kisah menarik soal hubungan Agus Salim dengan Sutan Sjahrir, yang juga tak sejalan dengan Agus Salim. Menurut penuturan Sjahrir, ia bersama sekelompok pemuda pernah sengaja mendatangi rapat di mana Agus Salim akan berpidato. Menurut Sjahrir, mereka memang bermaksud mengacaukan pertemuan itu. Setiap kalimat yang diucapkan Agus Salim mereka sambut dengan mengejek jenggotnya.

Setelah ketiga kalinya mereka menyahut ucapan Salim dengan “mbeeek.. mbee-eek…mbeeeek”, Agus Salim mengangkat tangannya sambil berkata, “Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa.”

Syahrir menuturkan, “Saat itu kami tidak meninggalkan ruangan. Namun muka kami merah melihat gelak tawa dari hadirin lainnya.”

Namun, hubungan yang tidak harmonis di medan politik, tidak menghalangi Agus Salim untuk menerima Sutan Sjahrir menginap di rumahnya.

Sjahrir justru terkesan dengan kehidupan keseharian Agus Salim dan keluarganya. “Saya turut mengenyam makanan hariannya yang tidak lebih dari nasi garam dan daun ubi kayu. Meskipun begitu tiap-tiap waktu makan sangat menarik karena suasana selalu gembira, terutama Haji Agus Salim, selalu menyuguhi pembicaraan dengan fikiran yang segar dan menarik,” kenang Sjahrir.

Bahkan, sewaktu bersama Agus Salim pergi ke Amerika Serikat membawa misi Indonesia yang baru merdeka, Sjahrir lagi-lagi terkesan dan memuji Agus Salim. Sjahrir mengisahkan, di Amerika saat itu, berkembang opini yang sangat buruk terhadap Indonesia. Pers, apalagi dari State Departement, sangat terpengaruh gambaran yang diberikan Belanda tentang Indonesia.

Dalam situasi demikian, di antara rombongan, Agus Salim paling optimis dan paling militan menghadapi dunia yang merendahkan hasil perjuangan rakyat Indonesia. “Di dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan wakil-wakil State Department yang waktu itu jauh dari pada manis terhadap kita, selalu kemahiran Haji Agus Salim dalam perdebatan yang menguasai pembicaraan,” tambah Sjahrir.

Demikianlah, orang-orang besar yang sesungguhnya, justru mampu melihat kekerdilan orang lain dengan kacamata kasih sayang. Betapa agama ini, telah mengantarkan manusia kepada kemuliaan kemanusiaan yang tiada bandingnya.

Sumber : http://wawankurniawan.net/hikmah/yang-berempati-karena-kemanusiaan.htm


Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran." (QS.Al-Ashr: 1 – 3)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK dan BANTAHLAH mereka dengan CARA yang TERBAIK. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”  (QS An-Nahl ayat 125)

"Tidak ada kepada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar."(QS An-Nisa' [14] : 114)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”(QS. Al-An’am : 116)

"….Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS az-zumar (39) ayat : 9)

"….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS al-mujadillah (58) ayat 11)

"….Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (ulama)…"(QS fathir (35) ayat 28)

"Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. " (QS. Al-An’am : 125)

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Alam Nasyrah: 5-6)

”Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. 3 : 134)

"Dan apabila kamu melihat orang2 yang memperolok-olokan ayat2 Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang2 yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu)."  (QS. Al-An'am : 68)

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah SWT., tidaklah dapat kamu menghitungnya." (QS. Ibrahim, 14 : 34)

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya)." (QS. Al A'raaf: 3)

“Dan janganlah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (QS. Al-Isra : 36)

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (QS. Ash-Shaff : 2-3)

"Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik- baiknya."(QS. Yunus :158)

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberikannya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran."(QS. Al-Jaatsiyah: 23)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetar/takutlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka semakin bertambahlah keimanan mereka. Dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya.” (QS. al-Anfaal: 2)

"Tidak seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara ghaib kecuali Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan." (QS. An-Naml : 65)

"Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Baqarah : 185)

"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum maka tidak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."  (QS Ar-Ra’d: 11)

"hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid,  makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."  (QS. Al-A’raaf : 31)

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’:26)

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS. Al-Baqarah : 45-46)

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.” (QS. Al-A’la: 14-15)

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih bahwasanya mereka akan mendapatkan balasan berupa surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…”  (QS. al-Baqarah: 25)


***
Nabi Muhammad SAW. bersabda,
"Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari dan Muslim)

"Sebaik-baiknya kamu adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

 "Yang terbaik diantara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia." (HR. Ahmad bin Hambal)

"Sebaik-baiknya manusia diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya." (HR. Tirmidzi)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.”  (HR. Tirmidzi)
 
"Tidak sempurna iman seseorang diantaramu hingga mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri." (HR Bukhari dan Muslim).

"Diantara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat baginya." (HR. At-Thirmidzi, Ibn Majah, Malik, Ibn Hibban, dan Al-Baihaqi)

"Menuntut Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan."  (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

"Pelajarilah oleh kamu ilmu, sebab mempelajari ilmu itu memberikan rasa takut kepada Allah : Menuntutnya merupakan Ibadah, Mengulang-ngulangnya merupakan Tasbih, pembahasannya merupakan Jihad, Mengajarkannya kepada orang lain merupakan Shodaqoh, menyerahkan kepada ahlinya merupakan pendekatan diri kepada Allah. maka SEMPURNAKANLAH..." (HR. Ibn' Abdil Barr)

"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh " (HR. Dailami dari Ali).

"Tuntutlah ilmu dan belajarlah (untuk ilmu) ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajarkan kamu". (HR. Ath-Thabrani)


"Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat."  (HR. Al Baihaqi)

"Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga." (HR. Muslim)

"Perumpamaan Allah Azza Wa Jalla mengutusku menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti titisan hujan yang telah membasahi bumi. Manakala bumi tersebut sebahagian tanahnya ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumput dan sebahagian lagi berupa tanah-tanah keras yang dapat menahan air, lalu Allah memberi manfaat kepada manusia sehingga mereka dapat meneguk air, memberi minum dan menggembala ternaknya di tempat itu. Ada juga titisan air hujan tersebut jatuh di tanah yang lain, iaitu tanah gersang yang sama sekali tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput rampai. Manakala itu semua adalah perumpamaan orang yang bijak pandai tentang agama Allah dan memanfaatkannya setelah aku diutus oleh Allah. Maka baginda tahu dan mahu mengajar apa yang diketahuinya dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mahu menerima petunjuk Allah yang keranaNya aku diutuskan." [Muttafaq'alaih]

“Tidak boleh iri kecuali kepada dua golongan: Orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan harta (kekayaan) kepadanya lalu dia infakkan di jalan yang benar, serta orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala karuniakan ilmu kepadanya lalu dia menunaikan konsekuensinya (mengamalkannya) dan mengajarkannya.”  (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Mas’ud ra.)

"Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun."(HR. Muslim)

"Janganlah kalian menuntut ilmu untuk membanggakan terhadap para ulama dan untuk diperdebatkan dikalangan orang-orang bodoh dan buruk perangainya. Jangan pula menuntut ilmu untuk penampilan dalam majelis (pertemuan atau rapat) dan untuk menarik perhatian orang-orang kepadamu. Barang siapa seperti itu, maka baginya neraka... neraka." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau (lebih baik) diam, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga, Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim)  


“siapapun yang dapat menjaga lidah dan kemaluannya, aku jamin ia akan masuk surga.” (Hadis Shahih Bukhari)

"Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke-dalam neraka adalah mulut dan kemaluan."  (HR. Tirmidzi, Shahih)

“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi org yg meninggalkan debat meskipun dia berada dlm pihak yg benar. Dan aku menjamin sbuah rumah di tengah surga bagi orang yg meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi org yg membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)

"Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman. Demi Allah, tidak beriman". Ada yang bertanya, "Siapa wahai rasulullah ? ". Beliau menjawab, "Yang tetangganya tidak aman dari gangguan-gangguannya." (HR. Al-Bukhori) 

"Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui manusia (secara turun temurun) dari kalimat kenabian terdahulu adalah, "Jika engkau tidak memiliki rasa malu berbuatlah sesukamu". (HR. Bukhari, Shahih)

"Aku berdiri di muka pintu surga, tiba-tiba kudapatkan kebanyakan yg masuk surga adl orang-orang fakir miskin, sedangkan orang-orang kaya masih tertahan oleh perhitungan kekayaanya dan orang-orang ahli neraka telah diperintahkan masuk neraka, maka ketika saya berdiri di dekat pintu neraka tiba2 kudapatkan kebanyakan yang masuk ke dalamnya adalah wanita/perempuan." (HR. Bukhari-Muslim)

“Tidak akan beranjak kaki anak Adam pada Hari Kiamat dari sisi Rabbnya sampai dia ditanya tentang 5 (perkara) : Tentang umurnya dimana dia habiskan, tentang masa mudanya dimana dia usangkan, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia keluarkan dan tentang apa yang telah dia amalkan dari ilmunya”(HR. At-Tirmizi)

"Kesengsaraan yg paling sengsara... ialah miskin di dunia dan disiksa di akhirat." (HR. Ath-Thabrani dan Asysyihaab)

"Setiap anak cucu Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah ialah yang banyak bertaubat."(HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian).” (HR. Muslim)

"Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit."(HR. Bukhari)


“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab,... “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“(HR. Muslim)

“Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.”  (HR. Muslim)

"Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat"(HR. Muslim)

“Siapa yang melepas kesusahan mukmin di dunia niscaya Allah akan melepas kesusahan di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi aib (kesalahan/kekurangan) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya. ” (HR. Muslim)

“Seorang muslim adalah saudara bagi orang islam yang lain. Ia tidak mendzalimi dan membiarkan saudaranya (tidak menolong) ketika memiliki hajat, maka Allah yang akan memenuhi hajatnya. Barangsiapa membantu kesulitan seorang muslim, maka Allah akan membantu kesulitan yang ia hadapi kelak di hari kiamat.”(HR. Abu Dawud)

“Lihatlah orang yang di bawah kalian dan jangan melihat orang yang di atas kalian karena dengan (melihat ke bawah) lebih pantas untuk kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dilimpahkan-Nya kepada kalian.”  (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

"Orang pintar ialah sesiapa yang memuliakan dirinya serta membuat persediaan untuk kehidupan selepas mati, sementara orang bodoh ialah sesiapa yang membiarkan dirinya mengikuti hawa nafsu serta mengharapkan cita-citanya dikabulkan oleh Allah." (HR. At-Tirmidzi)

“Bersemangatlah untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah lemah. Bila menimpamu sesuatu (dari perkara yang tidak disukai) janganlah engkau berkata: “Seandainya aku melakukan ini niscaya akan begini dan begitu,” akan tetapi katakanlah: “Allah telah menetapkan dan apa yang Dia inginkan Dia akan lakukan,”karena sesungguhnya kalimat ‘seandainya’ itu membuka amalan syaithan.” (HR. Muslim)

”Kerjakanlah ibadah apa yang engkau mampu, sesungguhnya Allah tidak pernah bosan hingga kalian bosan.” (Hadis Shahih Bukhari)

“Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

"Hati-hatilah kamu dari prasangka, sesungguhnya prasangka adalah ucapan paling dusta. Janganlah kamu saling menyebarkan kabar (dusta), janganlah saling memata-matai, saling berbuat kikir, saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Maka jadilah hamba Allah yang saling bersaudara." (HR. Muslim)

"Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba'). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka." (HR. Ahmad, Shahih)

"Bukanlah orang yang kuat itu yang dapat membanting lawannya, kekuatan seseorang itu bukan diukur dengan kekuatan tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya pada waktu marah."  (HR. Bukhari - Muslim)

“Sesungguhnya aku juga bercanda namun aku tidak berkata kecuali yang benar.” (HR. Ath-Thabrani)

“Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

"Demi Allah, sesungguhnya berteman dengan suatu kaum yang menakut-nakutimu hingga akhirnya kamu menemukan rasa aman itu lebih baik daripada kamu berteman dengan sekelompok orang yang membuatmu merasa aman, namun akhirnya kamu di kejar-kejar oleh perkara-perkara yang menakutkan."  (Imam Ahmad, dalam Kitab Az Zuhd)



"Katakanlah yang Hak (benar) walau kadang menyakitkan." (Al-Hadist)

 “Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba (budak) yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

"Tiga orang yang tidak disapa oleh Allah, tidak dibersihkan, dan tidak dilihat kelak pada hari kiamat dan mereka mendapat adzab yang paling pedih, yakni orang tua yang berzina, seorang raja (penguasa) yang dusta dan seorang yang miskin namun takabur (sombong)." (HR. Muslim)


“Ada 3 hal yang termasuk pusaka kebajikan, yaitu merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan shodaqah (yang kita keluarkan).” (HR. Ath-Thabrani)

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud)

"Kelak akan ada dari umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras dan musik." (HR. Bukhari dan Abu Daud)

"Sesungguhnya ibadah (amalan) yang pertama kali dihisab di hari kiamat kelak adalah sholat, jika sholatnya baik, maka baiklah seluruh amal perbuatannya, dan jika sholatnya buruk (cacat), maka akan rusaklah seluruh amal perbuatannya." (HR. Thabrani)

”Barangsiapa yang mengatakan 'Laa Ilaha Illalah' dengan hanya mengharapkan ridho Allah lalu meninggal dalam keadaan seperti itu maka dia masuk surga. Barangsiapa yang berpuasa suatu hari dengan hanya mengharapkan reiho Allah lalu meninggal dalam keadaan seperti itu maka dia masuk surga.” (HR. Ahmad)

” Tidak beriman seseorang diantara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan semua manusia.” (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i)

“Janganlah kalian berlebih- lebihan dalam memujiku, sebagaimana orang- orang Nasrani telah berlebih- lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba Allah, maka katakanlah, “’Abdullaah Wa Rosuuluhu (hamba Alloh dan Rasul- Nya.” (HR.al- Bukhori, at- Tirmidzi, Ahmad, ad- Darimi dan yang lainnya dari Shahabat ‘Umar bin al- Khaththab Ra.)

“Hindarkanlah daripadamu sikap melampuai batas dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kamu telah binasa karenanya.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Abdullah bin Abbas).

 “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah)

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)


***
"Jangan lihat orangnya tapi lihat apa yang dia ucapkan." (Ali Bin Abi Thalib)

"Janganlah engkau merasa senang dengan banyaknya teman, selama mereka bukan orang yang baik-baik. Sebab, kedudukan teman seperti api, sedikitnya adalah kenikmatan, sedangkan banyaknya adalah kebinasaan." (Ali Bin Abi Thalib)

"Duduklah bersama orang-orang bijak, baik mereka itu musuh atau kawan. Sebab, akal bertemu dengan akal." (Ali bin Abi Thalib)

"Semulia-mulia manusia ialah siapa yang mempunyai adab, merendahkan diri ketika berkedudukan tinggi, memaafkan ketika berdaya membalas dan bersikap adil ketika kuat." (Khalifah Abdul Malik bin Marwan)

"Orang akan tetap menjadi ahli ilmu yang sejati selama dia masih menuntut. Tetapi apabila pada suatu ketika dia berkata "Aku sudah pintar", maka sesungguhnya dia sudah menjadi bodoh dengan sendirinya." (Luqman Hakim)

Nasihat kadang pahit dan getir...  Fudhail bin Iyadh berkata : 
"Wahai orang yang sengsara. Kamu orang jahat, tapi menganggap dirimu baik. Kamu orang bodoh, tapi menganggap dirimu pintar. Kamu tolol, tetapi menganggap dirimu cerdik. Umurmu pendek, tapi angan-anganmu panjang." Ketulusan menerima membuat rasanya manis..."

Imam Adz-dzhabi menambahkan :
"Demi Allah, sungguh benar apa yang beliau katakan. Kita ini dzalim, tetapi justru merasa didzalimi. Tukang memakan yang haram, tetapi merasa diri kita suci. Fasik (munafik) tetapi merasa diri kita shalih. Mencari ilmu untuk mengejar dunia, tetapi merasa mencari karena Allah semata." (Siyaaru A'lamu Nubal...a') 

"Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku." (Khalifah ‘Umar)

Ingat lima perkara sebelum lima perkara :
1.  Masa mudamu sebelum datang masa tuamu.
2.  Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu.
3.  Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu.
4.  Waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu.
5.  Hidupmu sebelum datang matimu.
Pergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya untuk memaksimalkan 5 sebelum datang 5!

“Tidak ada aib yang kutemukan dalam diri manusia, melebihi aib orang-orang yang sanggup menjadi sempurna, namun tidak mau menjadi sempurna.” (Abu Tammam..., sang penyair hikmah dari tanah Arab)

Janganlah anda mengira masuk “Jannah” atau syurga-Nya itu gampang diraih dikarenakan anda telah Muslim…!!!


Wallahu a’lam bish-shawabi... (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)

Catatan ini kami tujukan untuk kami sendiri pada khususnya...
dan untuk semua pembaca pada umumnya...
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini...
Itu hanyalah dari kami...
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan...

Marilah kita berdo'a kepada Allah SWT. :
Ya Rabb kami, ampuni kealpaan, kelalaian, ketidak-tahuan dan ketidak-fahaman kami selama ini...
Tunjunjukanlah kami kepada jalan yang lurus yaitu jalan menuju syurga-Mu...
Sesungguhnya kami hanyalah manusia biasa yang tidak lepas dari tempatnya lupa dan salah...
Dan sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik-Mu...

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan... 
dan bisa Bermanfaat serta bisa kita ambil hikmahnya...
Amin ya Rabbal 'alamin...

Wassalamu’alaikum wr. wb...
http://meyheriadi.blogspot.com/
Subscribe via RSS Feed If you enjoyed this article just click here, or subscribe to receive more great content just like it.

Daftar Isi

Recent Post

Download Gratis

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Blogs Aksara - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger